Pusat publikasi karya ilmiah
mahasiswa dan dosen Akademi
Keperawatan Alkautsar Temanggung.
Temukan berbagai karya ilmiah,
penelitian, dan pengabdian dalam
satu tempat.
Cari Koleksi Repository
Koleksi Karya Ilmiah
Akses berbagai karya ilmiah
Penelitian
Hasil penelitian dosen dan mahasiswa
Pengabdian
Dokumentasi kegiatan pengabdian
Koleksi Repository
65 karya tersedia dalam repository
#
Nama Penulis
Judul Karya
Abstrak
ISSN
Jenis
Bab 1
Bab 2
Bab 3
Bab 4
Bab 5
1.
Ryan Hidayat
EFEKTIVITAS TERAPI PSIKORELIGI PADA PASIEN SKIZOFRENIA DENGAN RISIKO PERILAKU KEKERASAN
EFEKTIVITAS TERAPI PSIKORELIGI PADA PASIEN
SKIZOFRENIA DENGAN RISIKO PERILAKU KEKERASAN
Ryan Hidayat1, Anie Yuliastu
...
Tugas Akhir
2.
Dimas Dwi Saputra
Efektivitas Terapi Bekam Kering Terhadap Risiko Perfusi Perifer tidak Efektif Pada Hipertensi
Hypertension triggers endothelial dysfunction and reduced blood vessel elasticity, disrupting systemic circulation and i
...
Tugas Akhir
3.
Windi Cristia Ananda
TERAPI SENAM OTAK (BRAIN GYM) UNTUK MENINGKATKAN FUNGSI KOGNITIF (MEMORI) PADA LANSIA DENGAN DEMENSIA
ABSTRAK
Latar Belakang: Demensia merupakan gangguan fungsi kognitif pada lansia yang ditandai dengan penurunan kemampua
...
Tugas Akhir
4.
NIken Ayu Suwandi, Tri Suraning Wulandari, Parmilah
IMPLEMENTASI PEMBERIAN JUS NANAS (ANANAS COMOSUS) UNTUK MENURUNKAN NYERI AKUT PADA GOUT ARTHRITIS
Gout arthritis merupakan penyakit inflamasi sendi akibat penumpukan kristal
monosodium urat yang ditandai dengan nyeri
...
Tugas Akhir
5.
Ulinuha Nur Mulyani
PENGARUH TEKNIK ALTERNATE NOSTRIL BREATING TERHADAP RISIKO PERFUSI SEREBRAL TIDAK EFEKTIF PADA PASIEN HIPERTENSI
PENGARUH TEKNIK ALTERNATE NOSTRIL BREATING TERHADAP
RISIKO PERFUSI SEREBRAL TIDAK EFEKTIF
PADA PASIEN HIPERTENSI
Ulin
...
Tugas Akhir
6.
Enggar Wahyu Sevriyana Dewi
IMPLEMENTASI PEMBERIAN RENDAM KAKI DENGAN REBUSAN SERAI DAN GARAM UNTUK MENGATASI NYERI AKUT PADA PENDERITA HIPERTENSI
Latar Belakang : Hipertensi merupakan penyakit tidak menular yang ditandai dengan peningkatan tekanan darah secara menet
...
Tugas Akhir
7.
Tiaraditta Maharani Putri Saifudin
Efektifitas Terapi Musik Pada Anak ADHD Dengan Gangguan Tumbuh Kembang
Latar Belakang: Attention Deficit Hyperactivity Disorder (ADHD) merupakan gangguan saraf yang memicu kesulitan konsentra
...
8.
Sofia Nora Afini
Butterfly hug untuk menurunkan tingkat ansietas pada remaja yang mengalami stres akademik
Latar Belakang: Stres akademik pada remaja dapat menimbulkan ansietas yang berdampak pada kondisi emosional, konsentrasi
...
9.
Ngaisus Suadak
PENERAPAN EDUKASI KESEHATAN TENTANG BANTUAN HIDUP DASAR UNTUK MENINGKATKAN PENGETAHUAN KARANG TARUNA DALAM MENANGANI CARDIAC ARREST DI DESA BALEKERTO
Henti jantung adalah kondisi gawat darurat yang dapat terjadi di mana saja; 73,9% kasus terjadi di luar
rumah sakit da
...
Tugas Akhir
10.
Rimanda Dista Sabilla
EDUKASI KESEHATAN PENCEGAHAN STUNTING TERHADAP TINGKAT PENGETAHUAN PADA IBU DENGAN ANAK USIA 0-2 TAHUN
EDUKASI KESEHATAN PENCEGAHAN STUNTING TERHADAP TINGKAT PENGETAHUAN PADA IBU DENGAN ANAK USIA 0-2 TAHUN
Rimanda Dista Sa
...
Tugas Akhir
11.
Elfina Brithney Safira
STIMULASI KOGNITIF TEKA-TEKI SILANG UNTUK MENGURANGI GANGGUAN MEMORI PADA LANSIA DENGAN DEMENSIA
STIMULASI KOGNITIF TEKA-TEKI SILANG UNTUK MENGURANGI GANGGUAN MEMORI PADA LANSIA DENGAN DEMENSIA
Elfina Brithney Safira
...
Tugas Akhir
12.
Inna Fatchulil Janah
Latihan Fisik Jalan Kaki Untuk Menurunkan Obesitas Pada Wanita Usia Dewasa Muda
Latar belakang: Obesitas merupakan kondisi dimana akumulasi lemak di dalam tubuh melebihi batas normal. Obesitas
...
Tugas Akhir
13.
Kezia Desta Sabilla
EFEKTIVITAS PEMBERIAN REBUSAN AIR DAUN SALAM UNTUK MENGURANGI NYERI AKUT PADA PASIEN HIPERTENSI
Pendahuluan: Hipertensi merupakan penyakit kronis yang ditandai dengan peningkatan tekanan darah ≥140/90 mmHg dan seri
...
Tugas akhir
14.
Eka Novia Agustina
Laporan Karya Tulis Ilmiah EFEKTIVITAS SENAM OTAK (BRAIN GYM) UNTUK MENGATASI GANGGUAN MEMORI PADA ANAK DENGAN DISABILITAS INTELEKTUAL
Latar Belakang: Disabilitas intelektual merupakan gangguan perkembangan neuropsikologis yang ditandai dengan keterbatasa
...
Karya Tulis Ilmiah
15.
Afifah Alya Rahma
IMPLEMENTASI PEMBERIAN KAPSUL DAUN KELOR (MORINGA OLEIFERA) UNTUK MENGATASI MASALAH KEPERAWATAN MENYUSUI TIDAK EFEKTIF PADA IBU MENYUSUI
Menyusui adalah proses penting untuk memenuhi kebutuhan gizi bayi; tapi, tidak semua ibu bisa melakukanya dengan efektif
...
Tugas Akhir
16.
Henanda Salsa Amalia Putri
PENERAPAN LATIHAN KESEIMBANGAN (balance exercise) UNTUK MENGURANGI RESIKO JATUH PADA LANSIA
Latar Belakang: Risiko jatuh pada lansia meningkat akibat penurunan kekuatan otot dan keseimbangan tubuh selama proses p
...
17.
Anindya Putri Probowati
EFEKTIFITAS TERAPI ZIKIR DALAM MENGURANGI KECEMASAN PADA MAHASISWA TINGKAT AKHIR
Latar Belakang: Mahasiswa tingkat akhir merupakan kelompok yang rentan mengalami kecemasan akibat tekanan akademik, peny
...
Tugas Akhir
18.
Silvia Naila Istianati
PENERAPAN TERAPI RELAKSASI: ABDOMINAL STRETCHING UNTUK MENGATASI NYERI AKUT DISMENOREA
PENERAPAN TERAPI RELAKSASI ABDOMINAL STRETCHING UNTUK MENGATASI NYERI AKUT DISMENOREA
ABSTRAK
Latar Belakang: Dismenor
...
tugas akhir
19.
Aufa Nafs Azzahra
Implementasi Terapi Musik Klasik Mozart Dalam Mengurangi Nyeri Pada Pasien Post Operasi Fraktur di Rumah Sakit PKU Muhammadiyah Temanggung
Latar belakang: Fraktur merupakan perihal hilangnya keutuhan serta terputusnya
kontinuitas struktur tulang, baik sebagi
...
20.
Afida Musarofah
IMPLEMENTASI JUS TOMAT UNTUK MENGATASI KETIDAKSTABILAN KADAR GLUKOSA DARAH PADA PASIEN DIABETES MELITUS TIPE 2
ABSTRAK
Latar belakang: Diabetes melitus tipe 2 merupakan penyakit metabolik kronis yang ditandai dengan peningkatan ka
...
Tugas Akhir
21.
Muhammad Misbahul Munir
EFEKTIFITAS PEMBERIAN AIR REBUSAN DAUN KERSEN (MUNTINGIA CALABURA L) UNTUK MENGATASI KETIDAKSTABILAN KADAR GLUKOSA DARAH PADA DIABETES MELLITUS TIPE 2
Latar belakang: Diabetes Mellitus Tipe 2 merupakan penyakit metabolik yang
ditandai dengan meningkatnya kadar glukosa d
...
Tugas Akhir
22.
Ziyadatul Mukaromah
PEMBERIAN AROMATERAPI LEMON (CITRUS LEMON) TERHADAP PENURUNAN NYERI DISMENOREA PADA REMAJA PUTRI
Latar belakang: Dismenorea merupakan masalah kesehatan yang sering dialami
remaja putri pada saat menstruasi. Kondisi
...
Tugas Akhir
23.
Amalia Fatharani
IMPLEMENTASI PEMBERIAN TELUR AYAM REBUS UNTUK MENGATASI INTOLERANSI AKTIVITAS PADA REMAJA PUTRI DENGAN ANEMIA
Latar Belakang: Anemia merupakan kondisi penurunan kadar hemoglobin yang menyebabkan terganggunya distribusi oksigen ke
...
Tugas Akhir
24.
Anissa Ria Pratiwi
IMPLEMENTASI PEMBERIAN DIIT NASI JAGUNG SEBAGAI UPAYA PENURUNAN KADAR GLUKOSA DARAH PADA PENDERITA DIABETES MELITUS
IMPLEMENTASI PEMBERIAN DIIT NASI JAGUNG SEBAGAI UPAYA PENURUNAN KADAR GLUKOSA DARAH PADA PENDERITA DIABETES MELITUS
A
...
Tugas Akhir
25.
Dewanda Rike Novia Aghata
IMPLEMENTASI TERAPI TIUP BALON UNTUK MENGATASI POLA NAPAS TIDAK EFEKTIF PADA ANAK ASMA DI RUANG MULTAZAM RUMAH SAKIT PKU MUHAMMADIYAH TEMANGGUNG
Latar belakang: Asma merupakan penyakit inflamasi kronis pada saluran pernapasan yang terjadi akibat penyempitan jalan n
...
Tugas Akhir
26.
Chasna A'yun Nabati
PENERAPAN TERAPI BERMAIN: MEWARNAI UNTUK MENURUNKAN ANSIETAS (HOSPITALISASI) PADA ANAK USIA 3-6 TAHUN DI RUANG MULTAZAM RUMAH SAKIT PKU MUHAMADIYAH TEMANGGUNG
PENERAPAN TERAPI BERMAIN: MEWARNAI UNTUK MENURUNKAN ANSIETAS (HOSPITALISASI) PADA ANAK USIA 3-6 TAHUN
DI RUANG MULTAZA
...
Tugas Akhir
27.
Hestiana Dyah Kusuma Wardani
IMPLEMENTASI TERAPI CERMIN (MIRROR THERAPY) UNTUK MEMPERBAIKI GANGGUAN MOBILITAS FISIK PADA PASIEN PASCA STROKE NON HEMORAGIK
Latar Belakang: Stroke non-hemoragik merupakan gangguan neurologis akibat terhambatnya aliran darah ke otak yang menyeba
...
Tugas Akhir
28.
Nafisa Dwi Setiabudi
PENGARUH SENAM DISMENOREA TERHADAP PENURUNAN NYERI PADA REMAJA YANG MENGALAMI DISMENOREA
ABSTRAK
Latar Belakang: Dismenorea merupakan nyeri menstruasi yang sering dialami
remaja putri akibat peningkatan pros
...
Tugas Akhir
29.
Malikhah Nur'ain
EFEKTIFITAS TERAPI BERMAIN MEWARNAI DALAM MENINGKATKAN STATUS PERKEMBANGAN (MOTORIK HALUS) PADA ANAK USIA DINI DENGAN RISIKO GANGGUAN PERKEMBANGAN
Latar Belakang: Risiko gangguan perkembangan pada anak usia dini dapat memengaruhi pencapaian tugas perkembangan, khusus
...
Tugas akhir
30.
Adea Zia'ul Hikmah
PERMAINAN PUZZLE UNTUK MENGURANGI ANSIETAS PADA ANAK PRASEKOLAH (5-6 TAHUN) DENGAN PROSEDUR INJEKSI INTRAVENA
Latar Belakang: Anak usia prasekolah sering mengalami kecemasan ketika menjalani hospitalisasi, terutama saat menghadapi
...
Tugas Akhir
31.
Khomsatul Mubarokah
EFEKTIVITAS PEMBERIAN KOMPRES HANGAT UNTUK MENGURANG NYERI AKUT PADA PASIEN GASTRITIS
Latar Belakang : Gastritis adalah peradangan pada lapisan lambung yang sering menyebabkan nyeri tajam di area epigastriu
...
Karya Tulis Ilmiah / Tugas Akhir
32.
Prayogo
EFEKTIVITAS CUCI HIDUNG DENGAN LARUTAN SALIN ISOTONIS TERHADAP PENURUNAN KONGESTI HIDUNG PADA PENDERITA INFEKSI SALURAN PERNAPASAN AKUT (ISPA)
TERAPI CUCI HIDUNG DENGAN LARUTAN SALIN ISOTONIS TERHADAP PENURUNAN KONGESTI HIDUNG PADA PENDERITA INFEKSI SALURAN PERNA
...
Tugas Akhir
33.
Daffa Surya Faditya
PEMBERIAN LARUTAN JERUK NIPIS DAN KECAP UNTUK MENINGKATKAN BERSIHAN JALAN NAPAS PADA ANAK PENDERITA INFEKSI SALURAN PERNAFASAN AKUT (ISPA)
Latar belakang : Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) pada anak sering menyebabkan bersihan jalan napas tidak efektif
...
Tugas Akhir
34.
Muhammad Takhlisul Anam
Pengaruh Teknik Distraksi Audiovisual Terhadap Anisetas Anak Prasekolah Dengan Pneumonia Saat Tindakan Nebulizer Di Rumah Sakit
Latar Belakang: Pneumonia merupakan penyebab utama mortalitas pada anak balita. Salah satu penatalaksanaan pada pneumoni
...
Tugas Akhir
35.
Sunan Sejati
Efektivitas Pemberian Susu Kedelai Dalam Menurunkan Nyeri Akut Pada Remaja Putri Dengan Doismenore
Dismenore merupakan keluhan nyeri pada area perut bawah yang sering dirasakan remaja putri dan dapat mengganggu aktivita
...
Tugas Akhir
36.
Annisa Aulia, Parmilah, Tri Suraning Wulandari
Implementasi Pemberian Kompres Hangat Terhadap Penurunan Nyeri Akut pada Dismenorea
Latar Belakang: Dismenorea merupakan keluhan nyeri saat menstruasi yang biasanya dirasakan sebagai kram tajam maupun tum
...
Tugas Akhir
37.
Kavita Erly Khairunnisa
Efektivitas Jus Apel Hijau Granny Smith Untuk Mengatasi Masalah Nyeri Akut Pada Pasien Lansia Hiperkolesterolemia
ABSTRAK
Latar Belakang: Kolesterol merupakan senyawa alami diproduksi oleh tubuh dan berperan sebagai komponen dasar da
...
-
Tugas Akhir
38.
Bunga Assyakura Alfatheer, Parmilah, Tri Suraning Wulandari
PENERAPAN TINDAKAN DUKUNGAN MOBILISASI UNTUK MENINGKATKAN MOBILITAS FISIK PADA PASIEN POST OPERASI APENDIKTOMI DI RUANG MARWA RUMAH SAKIT PKU MUHAMMADIYAH TEMANGGUNG
PENERAPAN TINDAKAN DUKUNGAN MOBILISASI UNTUK MENINGKATKAN MOBILITAS FISIK PADA PASIEN POST OPERASI APENDIKTOMI DI RUA
...
Tugas Akhir
39.
Fifiyana Amilia
EFEKTIFITAS SENAM YOGA UNTUK MENGENDALIKAN KETIDAKSTABILAN KADAR GLUKOSA DARAH PADA DIABETES MELLITUS TIPE II
Latar belakang: Diabetes mellitus merupakan penyakit tidak menular yang ditandai oleh meningkatnya kadar glukosa dalam
...
Tugas Akhir
40.
Nadya Malichatul Inayah
Pengaruh Art Therapy Terhadap Tingkat Ansietas Pada Lansia Dengan Demensia
Latar Belakang : Lansia dengan demensia merupakan gangguan kognitif yang bisa
meningkatkan kecemasan dan mempengaruhi k
...
Tugas Akhir
41.
Anie Yuliastuti, Tri Suraning Wulandari, Ratna Kurniawati
PENANGANAN CEDERA DAN PERAWATAN LUKA RINGAN GURU PAUD ELPIST” DI PAUD ELPIST TEMANGGUNG 2025
Penanggulangan dan atau pertolongan pertama pada luka yang terjadi pada anak di sekolah, akan menjadi tanggungjawab guru
...
Pengabdian
-
-
-
-
-
42.
Anie Yuliastuti, Tri Suraning Wulandari, Ratna Kurniawati
EDUKASI MENTAL HEALTH FIRST AID PADA SISWA SMK TERKAIT TINGKAT PENGETAHUAN REMAJA DALAM MENGATASI MASALAH KESEHATAN MENTAL DI SEKOLAH 2025
Masalah kesehatan mental pada remaja merupakan isu yang semakin mendapat perhatian karena dapat memengaruhi proses belaj
...
Pengabdian
-
-
-
-
-
43.
Ratna Kurniawati, Retno Lusmiati Anisah, Tri Suraning Wulandari,
GAMBARAN RISIKO JATUH PADA LANSIA MENGGUNAKAN TUG SCORE DI WILAYAH KABUPATEN TEMANGGUNG TAHUN 2023
...
Penelitian
-
-
-
-
-
44.
Luthfi Fauzy Asriyanto, Tri Suraning Wulandari, Ratna Kurniawati
PENINGKATAN PENGETAHUAN DAN KESIAPSIAGAAN MASYARAKAT DALAM PENANGANAN PERTAMA KASUS GAWAT DARURAT DI LINGKUNGAN RUMAH
...
Pengabdian
-
-
-
-
-
45.
Tri Suraning Wulandari, Ahmad Fatih Musyarrof, Ratna Kurniawati
PEMBERDAYAAN KELUARGA DALAM MERAWAT PASIEN DIABETES
...
Pengabdian
-
-
-
-
-
46.
Tri Suraning Wulandari, Ahmad Fatih Musyarrof, Ratna Kurniawati
EDUKASI PERAN FISIKA DALAM BIDANG KESEHATAN DAN KEPERAWATAN BAGI SISWA MAN TEMANGGUNG
...
Pengabdian
-
-
-
-
-
47.
Tri Suraning Wulandari, Retno Lusmiati Anisah, Luthfi Fauzy Asriyanto
SKRINING HIPERTENSI PADA USIA REMAJA, DEWASA SAMPAI LANSIA DI KELURAHAN MADURESO DAN SIDOREJO TEMANGGUNG
...
Penelitian
-
-
-
-
-
48.
Parmilah, Luthfi Fauzy Asriyanto, Tri Suraning Wulandari, Ulinuha Nur Mulyani, Wahyu Lintang Ratri
UPAYA PENYELESAIAN MASALAH KETIDAKSTABILAN KADAR GLUKOSA DARAH: HIPERGLIKEMIA MELALUI PEMBERIAN REBUSAN JAHE MERAH PADA PENDERITA DIABETES MELLITUS
“UPAYA PENYELESAIAN MASALAH KEPERAWATAN ANSIETAS PADA PENDERITA GAGAL GINJAL KRONIS YANG MENJALANI HEMODIALISIS DENGAN TEKNIK DISTRAKSI FOOT MASSAGE”
...
Penelitian
-
-
-
-
-
50.
Parmilah, Luthfi Fauzy Asriyanto, Tri Suraning Wulandari, Chizanatul Fawaiha, Ahmad Mustofa
UPAYA MENINGKATKAN PENCAPAIAN NILAI KEPERAWATAN MEDIKAL BEDAH III MELALUI PENERAPAN METODE PEMBELAJARAN CERAMAH, STUDI KASUS DAN TUTORIAL SEBAYA DI AKADEMI KEPERAWATAN ALKAUTSAR TEMANGGUNG KEAKTIFAN DALAM MENJAWAB PERTANYAAN MAHASISWA TINGKAT II SEMESTER IV PADA MATA KULIAH
...
Penelitian
-
-
-
-
-
51.
Tri Suraning Wulandari, Ahmad Fatih Musyarrof, Ratna Kurniawati, Elfina Brithney Safira, Hestiyana Dyah Kusuma Wardani
PENGARUH MINAT BELAJAR SISWA TERHADAP HASIL BELAJAR FISIKA DI SMA NEGERI 1 TEMANGGUNG
GANGGUAN MOBILITAS FISIK PADA PASIEN STROKE DENGAN TEKNIK LATIHAN PENGUATAN OTOT MENGGENGGAM BOLA KARET
...
Penelitian
-
-
-
-
-
57.
Luthfi Fauzy Asriyanto, Tri Suraning Wulandari,Parmilah, Silvia Naila Istianti, Enggar Wahyu Sevriyana Dewi
EFEKTIVITAS SENAM KAKI UNTUK MENGATASI KETIDAKSTABILAN KADAR GLUKOSA DARAH PADA PASIEN DIABETES MELITUS
...
Penelitian
-
-
-
-
-
58.
Retno Lusmiati Anisah, Ratna Kurniawati, Lutfi Fauzy A
PENERAPAN TOILET TRAINING UNTUK MEMPERBAIKI ELIMINASI URIN PADA ANAK-ANAK DENGAN NOCTURNAL ENURESIS
Nocturnal enuresis merupakan kondisi keluarnya urin secara tidak sadar
pada malam hari saat tidur pada anak usia lebih
...
0003
penelitian
-
-
-
-
-
59.
Tri Suraning Wulandari, Ratna Kurniawati, Indarti, Aditya, Shania Azam A,Maradita
APLIKASI PERAWATAN LUKA MODERN DRESING DALAM MENINGKATKAN INTEGRITAS KULIT PASIEN ULKUS DIABETIKUM
...
Penelitian
-
-
-
-
-
60.
Luthfi Fauzy Asriyanto, Parmilah, Ratna Kurniawati, Rimanda Dista Sabilla, Muhammad Takhlisul Anam
UPAYA PENYELESAIAN MASALAH KEPERAWATAN ANSIETASPADA PENDERITA GAGAL GINJAL KRONIS YANGMENJALANI HEMODIALISIS DENGAN TEKNIK DISTRAKSI : FOOT MASSAGE
...
Penelitian
-
-
-
-
-
61.
Luthfi Fauzy Asriyanto, Ratna Kurniawati, Ahmad Fatih Musyrrof
VALIDITAS DAN RELIABILITAS INSTRUMEN NYERI PADA PASIEN PENURUNAN KESADARAN: LITERATURE REVIEW
...
Penelitian
-
-
-
-
-
62.
Ratna Kurniawati, Tri Suraning Wulandari, Retno Lusmiati Anisah
Integrasi Konseling Holistik dalam Meningkatkan Kesejahteraan Mental Mahasiswa Berdasarkan Analisis SRQ
...
Penelitian
-
-
-
-
-
63.
Ratna Kurniawati, Suhartini
Pengembangan Model Self-Monitoring Fenomena Fajar (Dawa Effect) untuk Meningkatkan Self-Management pad Pasien Diabetes Melitus Tipe 2
...
Penelitian
-
-
-
-
-
64.
Ratna Kurniawati, Ahmad Fatih Musyarrof
Efektifitas Pemberian Terapi Murotal Al-Qur’an Untuk Mengatasi Gangguan Pola Tidur Pada Lansia Dengan Insomnia
...
002
penelitian
-
-
-
-
-
65.
Ratna Kurniawati, Tri Suraning Wulandari, Retno Lusmiati Anisah
Rancangan Inklusif D-PUZZLO terhadap Suasana Hati dan Fokus Pada Anak Berkebutuhan Khusus dan Down Syndrome
Penelitian ini bertujuan untuk mengembangkan dan mengevaluasi "D-PUZZLO" sebagai alat bantu edukatif bagi anak dengan Do
...
00001
Penelitian
-
-
-
-
-
Repository AKPER Alkautsar dalam Angka
65
+
Koleksi Repository
Mahasiswa
Karya ilmiah mahasiswa
Dosen
Karya ilmiah dosen
Abstrak
EFEKTIVITAS TERAPI PSIKORELIGI PADA PASIEN SKIZOFRENIA DENGAN RISIKO PERILAKU KEKERASAN
EFEKTIVITAS TERAPI PSIKORELIGI PADA PASIEN
SKIZOFRENIA DENGAN RISIKO PERILAKU KEKERASAN
Ryan Hidayat1, Anie Yuliastuti2, Ratna Kurniawati3
1,2,3 Akademi Keperawatan Al-Kautsar Temanggung
Email Korespondensi: ryanryzcoun@gmail.com
ABSTRAK
Latar Belakang: Pasien skizofrenia sering mengalami Risiko Perilaku Kekerasan
(RPK) yang membahayakan. Terapi psikoreligi hadir sebagai intervensi non
farmakologis berbasis spiritual. Tujuan: Mengetahui efektivitas terapi psikoreligi
terhadap penurunan perilaku kekerasan. Metode: Studi kasus pada dua pasien
perempuan skizofrenia dengan RPK (Ny. L 36 tahun, Ny. S 40 tahun). Intervensi
dzikir "Astagfirullahaladzim" diberikan 3 hari berturut-turut. Hasil: Seluruh 8 item
tanda gejala RPK (mengancam, mengumpat, suara keras, bicara ketus, menyerang,
melukai, merusak lingkungan, agresif/amuk) menurun signifikan hingga tidak
tampak. Skor kontrol diri meningkat dari 2 menjadi 4-5. Pasien mampu melakukan
dzikir mandiri. Kesimpulan: Terapi psikoreligi efektif menurunkan RPK pada
pasien skizofrenia dan direkomendasikan sebagai terapi non-farmakologis di
fasilitas kesehatan maupun rumah.
Kata Kunci: Terapi psikoreligi, skizofrenia, risiko perilaku kekerasan.
Abstrak
Efektivitas Terapi Bekam Kering Terhadap Risiko Perfusi Perifer tidak Efektif Pada Hipertensi
Hypertension triggers endothelial dysfunction and reduced blood vessel elasticity, disrupting systemic circulation and increasing the risk of ineffective peripheral perfusion. Dry cupping therapy serves as a potential complementary non-pharmacological intervention that stimulates vasodilation to improve microcirculation and lower blood pressure. This study aimed to determine the effectiveness of dry cupping therapy on the risk of ineffective peripheral perfusion in hypertensive patients. This qualitative case study examined two elderly male subjects with mild-to-moderate hypertension in Kandangan District, Temanggung. The intervention was conducted four times over one month (once a week, 15-30 minutes) using nine primary cupping points. Data were gathered through triangulation (interviews, observations, physical examinations, documentation) and analyzed descriptively. Post-intervention, both respondents demonstrated significant improvements in peripheral perfusion status, characterized by increased peripheral pulse palpation, reduced extremity pain scale, and the resolution of paresthesia and muscle cramps. The second respondent showed an optimal hemodynamic response, with blood pressure decreasing to 140/75 mmHg and Mean Arterial Pressure reaching 96.7 mmHg. Dry cupping therapy is clinically effective in improving peripheral perfusion status and reducing subjective complaints in hypertensive patients, although the systemic blood pressure response varies.
Keywords: Dry Cupping; Hypertension; Ineffective Peripheral Perfusion; Elderly
Abstrak
TERAPI SENAM OTAK (BRAIN GYM) UNTUK MENINGKATKAN FUNGSI KOGNITIF (MEMORI) PADA LANSIA DENGAN DEMENSIA
ABSTRAK
Latar Belakang: Demensia merupakan gangguan fungsi kognitif pada lansia yang ditandai dengan penurunan kemampuan mengingat (memori), berpikir, berkonsentrasi, dan melakukan aktivitas sehari-hari yang disebabkan oleh kerusakan atau gangguan fungsi sel-sel otak, sehingga dapat menimbulkan masalah gangguan memori. Salah satu intervensi nonfarmakologis yang dapat membantu meningkatkan fungsi kognitif adalah terapi senam otak (Brain Gym) yang membantu menstimulasi fungsi kognitif pada lansia dengan demensia melalui gerakan terkoordinasi yang melatih konsentrasi, perhatian, dan memori. Penelitian melibatkan dua lansia berusia ≥60 tahun dengan skor MMSE awal 23–25. Setelah diberikan senam otak sebanyak 6 kali selama 14 hari, skor MMSE meningkat menjadi 26–28. Tujuan: Mengetahui penerapan terapi senam otak (brain gym) dalam meningkatkan fungsi kognitif pada lansia dengan demensia. Metode: Penelitian menggunakan metode deskriptif dengan rancangan studi kasus pada dua lansia, yaitu Tn. P (64 tahun) dan Tn. S (66 tahun) dengan demensia ringan. Intervensi diberikan melalui terapi senam otak sebanyak 6 kali selama 14 hari dengan durasi ±15 menit setiap sesi. Pengukuran fungsi kognitif dilakukan menggunakan Mini Mental State Examination (MMSE). Hasil: Hasil menunjukkan peningkatan skor MMSE Tn. P dari 25 menjadi 28 dan Tn. S dari 23 menjadi 26. Kesimpulan: Terapi senam otak (brain gym) efektif membantu meningkatkan fungsi kognitif pada lansia dengan demensia.
Kata kunci: brain gym, demensia, lansia.
Abstrak
IMPLEMENTASI PEMBERIAN JUS NANAS (ANANAS COMOSUS) UNTUK MENURUNKAN NYERI AKUT PADA GOUT ARTHRITIS
Gout arthritis merupakan penyakit inflamasi sendi akibat penumpukan kristal
monosodium urat yang ditandai dengan nyeri hebat, pembengkakan, kemerahan,
dan keterbatasan gerak sendi. Data Riset Kesehatan Dasar tahun 2018 menunjukkan
prevalensi gout arthritis di Indonesia sebesar 11,9%, sedangkan di Provinsi Jawa
Tengah mencapai 6,78%. Nyeri akut merupakan masalah keperawatan utama pada
pasien gout arthritis yang dapat mengganggu aktivitas dan kualitas hidup pasien.
Salah satu terapi nonfarmakologis yang dapat digunakan untuk membantu
menurunkan nyeri akut adalah pemberian jus nanas. Buah nanas mengandung
enzim bromelain yang memiliki efek antiinflamasi dan analgesik sehingga dapat
membantu mengurangi nyeri dan peradangan pada penderita gout arthritis.
Penelitian ini menggunakan desain studi kasus. Subjek penelitian terdiri dari 2
responden laki-laki berusia 46 tahun dan 53 tahun yang mengalami gout arthritis
dengan masalah keperawatan nyeri akut. Kriteria inklusi meliputi pasien dengan
kadar asam urat >7 mg/dl, mengalami nyeri sedang berdasarkan Numeric Rating
Scale (NRS), dan bersedia menjadi responden. Intervensi dilakukan dengan
pemberian jus nanas sebanyak 200 ml sekali sehari setelah makan selama 7 hari
berturut-turut. Pengumpulan data dilakukan melalui wawancara, observasi,
pemeriksaan kadar asam urat, dan pengukuran skala nyeri menggunakan NRS.
Hasil studi menunjukkan adanya penurunan kadar asam urat dan skala nyeri pada
kedua responden setelah pemberian jus nanas selama 7 hari. Responden pertama
mengalami penurunan kadar asam urat dari 8,9 mg/dl menjadi 7 mg/dl dan skala
nyeri dari 5 menjadi 2, sedangkan responden kedua dari 8,3 mg/dl menjadi 6,9
mg/dl dan skala nyeri dari 6 menjadi 1. Pemberian jus nanas efektif menurunkan
kadar asam urat dan memperbaiki nyeri akut pada penderita gout arthritis.
Kata Kunci: Gout Arthritis; Jus nanas; Nyeri akut
Abstrak
PENGARUH TEKNIK ALTERNATE NOSTRIL BREATING TERHADAP RISIKO PERFUSI SEREBRAL TIDAK EFEKTIF PADA PASIEN HIPERTENSI
PENGARUH TEKNIK ALTERNATE NOSTRIL BREATING TERHADAP
RISIKO PERFUSI SEREBRAL TIDAK EFEKTIF
PADA PASIEN HIPERTENSI
Ulinuha Nur Mulyani1
, Luthfi Fauzi Asriyanto2
, Parmilah3
123Akademi Keperawatan Alkautsar Temanggung
Email : ulinnuhanurmulyani@gmail.com, luthfifauzy15@gmail.com,
mila25774@gmail.com
ABSTRAK
Latar Belakang : Hipertensi merupakan penyakit tidak menular yang dikenal
sebagai silent killer dan dapat menyebabkan risiko perfusi serebral tidak efektif
akibat peningkatan tekanan darah yang berlangsung terus-menerus. Teknik
alternate nostril breathing (ANB) merupakan salah satu terapi nonfarmakologis
yang dapat membantu menurunkan tekanan darah melalui mekanisme relaksasi dan
stimulasi sistem saraf parasimpatis. Tujuan : Studi kasus ini adalah untuk
mengetahui efektivitas teknik alternate nostril breathing dalam mengatasi risiko
perfusi serebral tidak efektif pada pasien hipertensi derajat 2. Metode : Penelitian
ini menggunakan pendekatan deskriptif pada dua pasien hipertensi derajat 2 di
wilayah kerja Puskesmas Parakan Kabupaten Temanggung dengan intervensi
selama 4 hari, dua kali sehari selama 15 menit.. Hasil : Studi menunjukkan adanya
penurunan tekanan darah pada kedua subjek setelah diberikan intervensi. Pada
subjek pertama tekanan darah menurun dari 149/98 mmHg menjadi 121/76 mmHg,
sedangkan pada subjek kedua menurun dari 153/93 mmHg menjadi 116/74 mmHg.
Kesimpulan : Teknik alternate nostril breathing efektif sebagai terapi
komplementer nonfarmakologis untuk membantu menurunkan tekanan darah dan
mengatasi risiko perfusi serebral tidak efektif pada pasien hipertensi.
Kata kunci: Risiko Perfusi Serebral Tidak Efektif, Hipertensi, Alternate Nostril
Breathing
THE EFFECT OF ALTERNATE NOSTRIL BREATHING TECHNIQUE
ON THE RISK OF INEFFECTIVE CEREBRAL PERFUSION IN
HYPERTENSIVE PATIENTS
Ulinuha Nur Mulyani1
, Luthfi Fauzi Asriyanto2
, Parmilah3
123Akademi Keperawatan Alkautsar Temanggung
Email : ulinnuhanurmulyani@gmail.com, luthfifauzy15@gmail.com,
mila25774@gmail.com
ABSTRACT
Background: Hypertension is a non-communicable disease known as a silent killer
and can cause a risk of ineffective cerebral perfusion due to continuously elevated
blood pressure. The alternate nostril breathing (ANB) technique is a nonpharmacological therapy that can help reduce blood pressure through relaxation
mechanisms and stimulation of the parasympathetic nervous system. Objective:
This case study aimed to determine the effectiveness of the alternate nostril
breathing technique in overcoming the risk of ineffective cerebral perfusion in
patients with grade 2 hypertension. Methods: This study used a descriptive
approach involving two patients with grade 2 hypertension in the working area of
Parakan Public Health Center, Temanggung Regency. The intervention was
conducted for 4 consecutive days, twice daily, for 15 minutes each session. Results:
The study showed a decrease in blood pressure in both subjects after the
intervention. In the first subject, blood pressure decreased from 149/98 mmHg to
121/76 mmHg, while in the second subject it decreased from 153/93 mmHg to
116/74 mmHg. Conclusion: The alternate nostril breathing technique is effective
as a complementary non-pharmacological therapy to help reduce blood pressure
and overcome the risk of ineffective cerebral perfusion in hypertensive patients.
Keywords: Risk of Ineffective Cerebral Perfusion, Hypertension, Alternate Nostril
Breathing
Abstrak
IMPLEMENTASI PEMBERIAN RENDAM KAKI DENGAN REBUSAN SERAI DAN GARAM UNTUK MENGATASI NYERI AKUT PADA PENDERITA HIPERTENSI
Latar Belakang : Hipertensi merupakan penyakit tidak menular yang ditandai dengan peningkatan tekanan darah secara menetap dan dapat menimbulkan berbagai komplikasi apabila tidak ditangani dengan baik. Salah satu masalah keperawatan yang sering muncul pada penderita hipertensi adalah nyeri akut. Selain terapi farmakologis, terapi nonfarmakologis berupa rendam kaki menggunakan rebusan serai dan garam dapat digunakan sebagai terapi komplementer untuk membantu menurunkan tekanan darah serta mengurangi nyeri melalui efek vasodilatasi, relaksasi otot, dan peningkatan sirkulasi darah. Tujuan : Studi kasus ini bertujuan untuk mengetahui efektivitas pemberian rendam kaki dengan rebusan serai dan garam untuk mengatasi nyeri akut pada penderita hipertensi. Metode : Penelitian ini menggunakan desain studi kasus dengan pendekatan deskriptif kualitatif. Subjek penelitian terdiri atas dua responden yang memenuhi kriteria inklusi, yaitu pasien hipertensi dengan masalah keperawatan nyeri akut. Intervensi dilakukan berupa terapi rendam kaki menggunakan air rebusan serai dan garam bersuhu ±40°C selama 15 menit, dua kali sehari (pagi dan sore) selama tujuh hari. Pengumpulan data dilakukan melalui wawancara, observasi, pemeriksaan fisik, dan studi dokumentasi. Evaluasi dilakukan menggunakan Numeric Rating Scale (NRS), pengukuran tekanan darah, frekuensi nadi, serta indikator luaran tingkat nyeri berdasarkan SLKI. Hasil : Setelah diberikan terapi rendam kaki dengan rebusan serai dan garam selama 7 hari, kedua responden mengalami penurunan intensitas nyeri dan tekanan darah. Skala nyeri pada kedua responden menurun dari 6 (nyeri sedang) menjadi 4 pada responden 1 dan 3 pada responden 2. Tekanan darah responden 1 menurun dari 170/98 mmHg menjadi 130/80 mmHg, sedangkan responden 2 dari 145/100 mmHg menjadi 128/70 mmHg. Selain itu, responden tampak lebih rileks, keluhan nyeri berkurang, dan kualitas istirahat membaik. Kesimpulan : Terapi rendam kaki dengan rebusan serai dan garam efektif sebagai intervensi keperawatan nonfarmakologis dalam membantu menurunkan skala nyeri akut dan tekanan darah pada pasien hipertensi. Terapi ini dapat dijadikan sebagai terapi pendamping untuk meningkatkan kenyamanan dan mendukung pengelolaan hipertensi.
Kata kunci : Hipertensi; Rebusan serai dan garam; Nyeri akut
Abstrak
Efektifitas Terapi Musik Pada Anak ADHD Dengan Gangguan Tumbuh Kembang
Latar Belakang: Attention Deficit Hyperactivity Disorder (ADHD) merupakan gangguan saraf yang memicu kesulitan konsentrasi, hiperaktivitas, dan impulsivitas pada anak. Terapi musik hadir sebagai intervensi nonfarmakologis potensial untuk meningkatkan fokus dan mendukung perkembangan kognitif. Tujuan: Terapi musik efektif menurunkan gejala ADHD dan mengoptimalkan tumbuh kembang melalui stimulasi neurologis dan regulasi perilaku. Paparan frekuensi spesifik (40–60 Hz dan 750–3.000 Hz) terbukti secara EEG merangsang organ fisik dan emosional untuk menurunkan ketegangan otot serta kecemasan. Sementara itu, penggunaan ritme yang tidak teratur efektif menangkap fokus anak guna meningkatkan rentang perhatian dan mereduksi perilaku impulsif-hiperaktif. Sinergi antara penurunan kecemasan dan peningkatan fokus kognitif ini memperkuat respons perilaku positif, meningkatkan motivasi, serta mendukung kemampuan konsentrasi dan interaksi sosial anak.. Metode: Penelitian kualitatif ini melibatkan dua anak penderita ADHD disertai gangguan tumbuh kembang di Sentra Terpadu Kartini Temanggung, yaitu Nn. A (10 tahun) dan Nn. N (11 tahun). Intervensi berupa terapi musik Mozart berdurasi 30 menit per sesi, dilakukan sebanyak 7 kali dalam 7 hari. Data dikumpulkan melalui wawancara, observasi, dengan Skala Penilaian Perilaku Anak Hiperaktif Indonesia (SPPAHI) dan Kuesioner Pra Skrining Perkembangan (KPSP) serta dokumentasi. Hasil: Sebelum intervensi, responden 1 memiliki skor SPPAHI 63 dan KPSP 8. Setelah dilakukan terapi mendapatkan skor SPPAHI menjadi 52. Sedangkan responden 2 memiliki skor SPPAHI 58 dan KPSP 6. Setelah dilakukan terapi mendapatkan skor SPPAHI menjadi 47. Setelah terapi rutin, kedua responden menunjukkan peningkatan fokus, sikap lebih kooperatif, penurunan perilaku hiperaktif-impulsif, serta perbaikan pada interaksi sosial, aspek kognitif, dan kemampuan menyelesaikan aktivitas. Kesimpulan: Terapi musik efektif meningkatkan fokus, mengurangi hiperaktivitas, serta mendukung perkembangan kognitif dan perilaku anak ADHD. Intervensi ini dapat dijadikan alternatif asuhan keperawatan bagi anak ADHD dengan gangguan tumbuh kembang.
Kata kunci: ADHD, terapi musik, gangguan tumbuh kembang.
Abstrak
Butterfly hug untuk menurunkan tingkat ansietas pada remaja yang mengalami stres akademik
Latar Belakang: Stres akademik pada remaja dapat menimbulkan ansietas yang berdampak pada kondisi emosional, konsentrasi belajar, pola tidur, dan aktivitas sehari-hari. Salah satu intervensi nonfarmakologis yang dapat membantu menurunkan ansietas adalah terapi Butterfly Hug. Teknik ini merupakan stimulasi bilateral sederhana yang memberikan efek relaksasi dan membantu individu mengontrol emosi negatif. Tujuan: Mengetahui penerapan terapi Butterfly Hug dalam menurunkan tingkat ansietas pada remaja yang mengalami stres akademik. Metode: Penelitian menggunakan metode deskriptif dengan rancangan studi kasus pada dua remaja yang mengalami ansietas akibat stres akademik. Intervensi diberikan melalui terapi Butterfly Hug selama 3 hari berturut-turut dengan durasi ±10–15 menit setiap sesi. Evaluasi tingkat ansietas dilakukan melalui observasi dan pengkajian keperawatan sebelum dan sesudah intervensi. Hasil: Hasil menunjukkan adanya penurunan tanda dan gejala ansietas pada kedua responden setelah diberikan terapi Butterfly Hug. Responden tampak lebih tenang, lebih rileks, mampu mengontrol emosi, serta mengalami penurunan keluhan cemas. Kesimpulan: Terapi Butterfly Hug efektif membantu menurunkan tingkat ansietas pada remaja yang mengalami stres akademik.
Kata kunci: Butterfly Hug, ansietas, stres akademik, remaja.
Abstrak
PENERAPAN EDUKASI KESEHATAN TENTANG BANTUAN HIDUP DASAR UNTUK MENINGKATKAN PENGETAHUAN KARANG TARUNA DALAM MENANGANI CARDIAC ARREST DI DESA BALEKERTO
Henti jantung adalah kondisi gawat darurat yang dapat terjadi di mana saja; 73,9% kasus terjadi di luar
rumah sakit dan sering disaksikan orang awam. Di Desa Balekerto, 9 dari 10 anggota Karang Taruna
tidak mengetahui cara memberikan pertolongan pertama pada henti jantung, menunjukkan tingginya
defisit pengetahuan tentang Bantuan Hidup Dasar (BHD). Penelitian ini bertujuan menggambarkan
perubahan pengetahuan dan keterampilan anggota Karang Taruna setelah edukasi kesehatan tentang
BHD. Menggunakan desain deskriptif kualitatif dengan pendekatan studi kasus pada tiga anggota
Karang Taruna usia 16-30 tahun yang mengalami defisit pengetahuan BHD, edukasi diberikan dalam
tiga pertemuan melalui ceramah, demonstrasi, dan redemonstrasi. Data dikumpulkan melalui
kuesioner pretest-posttest, checklist SOP BHD, dan evaluasi luaran Standar Luaran Keperawatan
Indonesia (SLKI) Tingkat Pengetahuan (L.12111). Hasil menunjukkan seluruh responden mengalami
peningkatan pengetahuan: Sdr. R naik dari 50% (kurang) menjadi 70% (cukup), sedangkan Sdr. S dan
Sdr. F naik dari kategori cukup menjadi 80% (baik). Dari segi keterampilan, Sdr. S dan Sdr. F
menuntaskan seluruh 20 langkah prosedur BHD, sementara Sdr. R menyelesaikan 18 dari 20 langkah. Evaluasi SLKI juga menunjukkan peningkatan pada seluruh indikator pengetahuan. Disimpulkan
bahwa edukasi kesehatan BHD melalui ceramah, demonstrasi, dan redemonstrasi efektif
meningkatkan pengetahuan dan keterampilan anggota Karang Taruna dalam menangani cardiac arrest
di Desa Balekerto.
Kata Kunci: Bantuan Hidup Dasar; Cardiac Arrest; Defisit Pengetahuan; Edukasi Kesehatan.
Abstrak
EDUKASI KESEHATAN PENCEGAHAN STUNTING TERHADAP TINGKAT PENGETAHUAN PADA IBU DENGAN ANAK USIA 0-2 TAHUN
EDUKASI KESEHATAN PENCEGAHAN STUNTING TERHADAP TINGKAT PENGETAHUAN PADA IBU DENGAN ANAK USIA 0-2 TAHUN
Rimanda Dista Sabilla1, Anie Yuliastuti2, Ratna Kurniawati3
123Akademi Keperawatan Alkautsar Temanggung
Email Korespodensi: rmndadsta@gmail.com
ABSTRAK
Latar Belakang: Stunting merupakan masalah kesehatan akibat kekurangan gizi kronis pada 1.000 HPK dengan prevalensi di Kabupaten Temanggung mencapai 27,3% tahun 2024. Tujuan: Penelitian ini bertujuan mengetahui pengaruh edukasi kesehatan tentang pencegahan stunting terhadap tingkat pengetahuan ibu yang memiliki anak usia 0–2 tahun. Metode: Penelitian menggunakan metode deskriptif dengan rancangan studi kasus pada dua ibu yaitu Ny. W dan Ny. D yang memiliki tingkat pengetahuan rendah mengenai stunting. Intervensi diberikan melalui edukasi kesehatan menggunakan media booklet, metode ceramah, dan tanya jawab selama 3 hari berturut-turut dengan durasi ±20 menit setiap sesi. Data dikumpulkan menggunakan kuesioner pre-test dan post-test. Hasil : Hasil menunjukkan peningkatan skor pengetahuan Ny. W dari 4 menjadi 9 dan Ny. D dari 5 menjadi 10. Kesimpulan: Pemberian edukasi kesehatan efektif dalam meningkatkan pengetahuan ibu tentang upaya pencegahan stunting pada anak usia 0-2 tahun
Kata kunci: Edukasi Kesehatan, Pengetahuan Ibu, Stunting
Abstrak
STIMULASI KOGNITIF TEKA-TEKI SILANG UNTUK MENGURANGI GANGGUAN MEMORI PADA LANSIA DENGAN DEMENSIA
STIMULASI KOGNITIF TEKA-TEKI SILANG UNTUK MENGURANGI GANGGUAN MEMORI PADA LANSIA DENGAN DEMENSIA
Elfina Brithney Safira1, Ratna Kurniawati2, Tri Suraning wulandari3, Ahmad Fatih Musyarrof4
1,2,3 Program Studi D-III Akademi Keperawatan Al-Kautsar Temanggung
Email Koresponden: elfinabrithney@gmail.com
ABSTRAK
Latar Belakang: Demensia merupakan gangguan neurokognitif yang ditandai dengan penurunan fungsi memori, kemampuan berpikir, dan orientasi sehingga menghambat aktivitas sehari-hari serta menurunkan kualitas hidup lansia. Stimulasi kognitif melalui teka-teki silang (TTS) merupakan salah satu intervensi nonfarmakologis yang dapat membantu mempertahankan fungsi kognitif. Tujuan: Mengetahui efektivitas stimulasi kognitif TTS dalam mengurangi gangguan memori pada lansia dengan demensia. Metode: Penelitian ini menggunakan desain deskriptif dengan pendekatan studi kasus pada dua lansia dengan demensia di wilayah binaan Puskesmas Tlogomulyo, Kabupaten Temanggung. Intervensi TTS diberikan sebanyak enam kali selama sepuluh hari dengan durasi 10–15 menit setiap sesi. Data dikumpulkan melalui wawancara, observasi, dan pengukuran fungsi kognitif menggunakan Mini Mental State Examination (MMSE). Hasil: Setelah intervensi, skor MMSE meningkat dari 21 menjadi 27 dan dari 24 menjadi 28. Selain itu, kemampuan konsentrasi, orientasi, daya ingat, komunikasi, serta kemampuan menjawab pertanyaan dan menyelesaikan latihan mengalami perbaikan. Indikator SLKI juga menunjukkan peningkatan kemampuan yang dipelajari serta penurunan verbalisasi pengalaman lupa dan mudah lupa. Kesimpulan: Stimulasi kognitif melalui TTS efektif membantu mengurangi gangguan memori dan meningkatkan fungsi kognitif pada lansia dengan demensia sehingga berpotensi menjadi intervensi keperawatan nonfarmakologis.
Kata kunci: demensia, gangguan memori, lansia, teka-teki silang.
Abstrak
Latihan Fisik Jalan Kaki Untuk Menurunkan Obesitas Pada Wanita Usia Dewasa Muda
Latar belakang: Obesitas merupakan kondisi dimana akumulasi lemak di dalam tubuh melebihi batas normal. Obesitas disebabkkan oleh genetik, ketidakseimbangan antara asupan dan pengeluaran energi, serta kurangnya aktivitas fisik. Tujuan: Mengetahui efektivitas latihan fisik jalan kaki untuk membantu mengurangi obesitas pada wanita usia dewasa muda. Metode: Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan studi kasus. IMT diukur dengan berat badan dalam kilogram dibagi tinggi badan kuadrat dalam meter. Penelitian dilakukan pada 2 subjek perempuan, usia 18-45 tahun, IMT >27 kg/m2, tebal lipatan kulit trisep >25 mm, dan aktivitas fisik harian kurang dari 600 MET-menit/minggu selama 5 kali dalam satu minggu (7 hari) dengan waktu kurang lebih 40 menit. Setiap tindakan dilakukan dengan pengukuran berat badan dan IMT sebelum jalan kaki, pemanasan 5 menit, jalan kaki 30 menit, pendinginan 5 menit, diakhiri pengukuran berat badan dan IMT setelah tindakan. Hasil: Kedua pasien menunjukkan adanya perubahan setelah penelitian. Pasien (1) rata-rata mengalami penurunan berat badan sebesar 0,49 kg dan IMT sebesar 0,22 kg/m2. Pasien (2) mrata-rata mengalami penurunan berat badan sebesar 0,23 kg dan IMT sebesar 0,094 kg/m. Kesimpulan: Latihan fisik jalan kaki menjadi salah satu terapi non farmakologis dalam membantu menurunkan berat badan dan IMT pada pasien dengan hasil yang berbeda.
Kata kunci: Dewasa muda; jalan kaki; obesitas.
Abstrak
EFEKTIVITAS PEMBERIAN REBUSAN AIR DAUN SALAM UNTUK MENGURANGI NYERI AKUT PADA PASIEN HIPERTENSI
Pendahuluan: Hipertensi merupakan penyakit kronis yang ditandai dengan peningkatan tekanan darah ≥140/90 mmHg dan sering disertai nyeri kepala yang dapat mengganggu aktivitas serta kenyamanan pasien. Salah satu terapi nonfarmakologis yang dapat digunakan adalah pemberian rebusan air daun salam yang mengandung flavonoid sehingga berpotensi membantu menurunkan tekanan darah dan mengurangi nyeri. Metode: Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan studi kasus pada dua pasien perempuan penderita hipertensi yang mengalami nyeri akut. Intervensi dilakukan dengan pemberian rebusan air daun salam yang dibuat dari 10 lembar daun salam dan 300 ml air, dikonsumsi dua kali sehari selama tujuh hari. Pengumpulan data dilakukan melalui wawancara, observasi, pemeriksaan fisik, pengukuran tekanan darah, dan pengkajian nyeri akut sesuai dengan Standar Diagnosa Keperawatan Indonesia (SDKI), dilengkapi dengan Numeric Rating Scale. Hasil: Hasil penelitian menunjukkan penurunan tingkat nyeri pada kedua responden, yaitu dari skala 4 menjadi 2 dan dari skala 3 menjadi 1, disertai penurunan tekanan darah pada Ny. M dari 195/102 mmHg menjadi 140/87 mmHg dan Ny. S dari 159/107 mmHg menjadi 148/83 mmHg setelah pemberian intervensi. Analisa: Penurunan tekanan darah yang terjadi setelah pemberian rebusan air daun salam diikuti dengan penurunan intensitas nyeri pada kedua responden, sehingga menunjukkan adanya perubahan kondisi pasien setelah intervensi. Kesimpulan: Pemberian rebusan air daun salam dapat menjadi terapi nonfarmakologis pendamping untuk membantu menurunkan nyeri akut pada pasien hipertensi.
Kata kunci: daun salam; hipertensi; nyeri akut
Abstrak
Laporan Karya Tulis Ilmiah EFEKTIVITAS SENAM OTAK (BRAIN GYM) UNTUK MENGATASI GANGGUAN MEMORI PADA ANAK DENGAN DISABILITAS INTELEKTUAL
Latar Belakang: Disabilitas intelektual merupakan gangguan perkembangan neuropsikologis yang ditandai dengan keterbatasan fungsi intelektual dan perilaku adaptif, salah satunya berupa gangguan memori. Gangguan memori pada anak dengan disabilitas intelektual dapat memengaruhi kemampuan belajar, konsentrasi, dan aktivitas sehari-hari. Salah satu intervensi nonfarmakologis yang dapat dilakukan adalah senam otak (brain gym). Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efektivitas senam otak (brain gym) dalam mengatasi gangguan memori pada anak dengan disabilitas intelektual. Metode: Penelitian ini menggunakan metode studi kasus deskriptif dengan dua responden anak disabilitas intelektual yang mengalami gangguan memori di SLB Negeri Temanggung. Intervensi senam otak dilakukan sebanyak dua kali dalam seminggu selama tiga minggu. Pengumpulan data dilakukan melalui observasi, wawancara, dan lembar evaluasi gangguan memori. Hasil: Hasil penelitian menunjukkan adanya peningkatan kemampuan mengingat, konsentrasi, dan kemampuan mengikuti instruksi setelah diberikan intervensi senam otak (brain gym). Responden juga menunjukkan peningkatan dalam mengikuti aktivitas pembelajaran dan kemampuan menerima informasi sederhana. Simpulan: Senam otak (brain gym) dapat menjadi salah satu intervensi nonfarmakologis yang efektif untuk membantu mengatasi gangguan memori pada anak dengan disabilitas intelektual sehingga dapat mendukung peningkatan kemampuan belajar dan aktivitas sehari-hari.
Kata Kunci: brain gym, disabilitas intelektual, gangguan memori
Abstrak
IMPLEMENTASI PEMBERIAN KAPSUL DAUN KELOR (MORINGA OLEIFERA) UNTUK MENGATASI MASALAH KEPERAWATAN MENYUSUI TIDAK EFEKTIF PADA IBU MENYUSUI
Menyusui adalah proses penting untuk memenuhi kebutuhan gizi bayi; tapi, tidak semua ibu bisa melakukanya dengan efektif. Menyusui yang tidak efektif adalah situasi di mana proses menyusui tidak berjalan optimal, sehingga kebutuhan gizi bayi tidak terpenuhi sepenuhnya. Kondisi ini bisa memepengaruhi ibu, menyebabkan masalah seperti payudara bengkak, mastitis, dan puting pecah, dan juga bisa memengaruhi bayi dengan rewel dan pertumbuhan yang kurang optimal. Terapi
non-farmakologis bisa diberikan untuk mengatasi masalah menyusui yang tidak efektif. Salah satunya adalah memberikan kapsul daun kelor (Moringa oleifera) selama 14 hari. Tujuan dari penelitian ini adalah mengatasi masalah menyusui yang kurang efektif dengan penerapan pemberian kapsul daun kelor (morinaga oleifera)kepada ibu menyusui. Metode studi kasus dengan teknik pengumpulan data berupa observasi dan wawancara, serta pemberian intervensi selama 14 hari kepada ibu menyusui yang mengalami masalah menyusui ternyata tidak efektif. Hasil
penelitian menunjukkan peningkatan indikator menyusui, salah satunya adalah peningkatan berat badan bayi. Intervensi yang diberikan efektif dalam meningkatkan kualitas proses menyusui dan mendukung keberhasilan menyusui.
Kata kunci: Ibu menyusui, Daun Kelor (Moringa Oleifera), Menyusui tidak efektif
Abstrak
PENERAPAN LATIHAN KESEIMBANGAN (balance exercise) UNTUK MENGURANGI RESIKO JATUH PADA LANSIA
Latar Belakang: Risiko jatuh pada lansia meningkat akibat penurunan kekuatan otot dan keseimbangan tubuh selama proses penuaan. Balance exercise merupakan intervensi nonfarmakologis yang dapat membantu meningkatkan keseimbangan dan menurunkan risiko jatuh. Tujuan: Mengetahui penerapan balance exercise dalam mengurangi risiko jatuh pada lansia. Metode: Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan studi kasus pada dua lansia perempuan berusia ≥65 tahun yang memiliki risiko jatuh sedang berdasarkan Morse Fall Scale (MFS). Intervensi diberikan berupa balance exercise selama tiga hari berturut-turut dengan durasi 10–15 menit pada setiap sesi. Data dikumpulkan melalui observasi, wawancara, pemeriksaan fisik, dan dokumentasi. Hasil: Pada dua kasus yang diamati, pemberian balance exercise selama tiga hari menunjukkan adanya penurunan risiko jatuh. Skor Morse Fall Scale (MFS) pada partisipan pertama menurun dari 45 menjadi 20, sedangkan pada partisipan kedua menurun dari 50 menjadi 20. Selain itu, terjadi peningkatan luaran tingkat jatuh yang ditandai dengan membaiknya keseimbangan tubuh, stabilitas postural, dan kemampuan mobilisasi pada kedua partisipan. Kesimpulan: Pada dua kasus yang diamati, balance exercise menunjukkan kecenderungan menurunkan risiko jatuh pada lansia sehingga berpotensi menjadi salah satu intervensi keperawatan nonfarmakologis dalam upaya promotif dan preventif untuk mengurangi risiko jatuh.
Abstrak
EFEKTIFITAS TERAPI ZIKIR DALAM MENGURANGI KECEMASAN PADA MAHASISWA TINGKAT AKHIR
Latar Belakang: Mahasiswa tingkat akhir merupakan kelompok yang rentan mengalami kecemasan akibat tekanan akademik, penyusunan tugas akhir, tuntutan keluarga, serta kekhawatiran terhadap kelulusan tepat waktu. Kecemasan yang tidak teratasi dapat berdampak pada gangguan konsentrasi, pola tidur, dan penurunan motivasi belajar. Salah satu intervensi nonfarmakologis yang dapat diterapkan adalah terapi zikir sebagai pendekatan spiritual untuk membantu menenangkan pikiran dan menurunkan tingkat kecemasan. Intervensi dilakukan selama lima hari berturut-turut dengan cara melafalkan kalimat zikir secara lisan dan terpandu dengan durasi 15 menit per sesi. Tujuan: Mengetahui efektivitas terapi zikir dalam mengurangi kecemasan pada mahasiswa tingkat akhir yang sedang menyusun tugas akhir. Metode: Penelitian ini menggunakan desain studi kasus dengan pendekatan pretest-posttest pada dua mahasiswa tingkat akhir yang mengalami kecemasan sedang berdasarkan Hamilton Anxiety Rating Scale (HARS). Intervensi dilakukan selama lima hari berturut-turut dengan durasi 10–15 menit per sesi, kemudian dilakukan evaluasi tingkat kecemasan setelah intervensi. Hasil: Terjadi penurunan tingkat kecemasan pada kedua subjek, yaitu skor HARS subjek pertama menurun dari 25 menjadi 14 dan subjek kedua dari 26 menjadi 13. Selain itu, kedua subjek tampak lebih tenang, rileks, mampu berkonsentrasi lebih baik, serta mengalami perbaikan pola tidur. Kesimpulan: Terapi zikir efektif sebagai intervensi nonfarmakologis berbasis spiritual dalam membantu mengurangi kecemasan pada mahasiswa tingkat akhir yang sedang menyusun tugas akhir.
Kata Kunci: Kecemasan, Mahasiswa Tingkat Akhir, Terapi Zikir.
Abstrak
PENERAPAN TERAPI RELAKSASI: ABDOMINAL STRETCHING UNTUK MENGATASI NYERI AKUT DISMENOREA
PENERAPAN TERAPI RELAKSASI ABDOMINAL STRETCHING UNTUK MENGATASI NYERI AKUT DISMENOREA
ABSTRAK
Latar Belakang: Dismenorea merupakan masalah kesehatan reproduksi yang umum terjadi pada remaja putri dan dapat mengganggu aktivitas sehari-hari, prestasi akademik, serta kualitas hidup. Penatalaksanaan non-farmakologis menjadi alternatif yang aman untuk mengurangi nyeri, salah satunya adalah terapi relaksasi abdominal stretching. Latihan ini meningkatkan sirkulasi darah, mengurangi spasme otot, dan merangsang pelepasan endorfin sebagai analgesik alami tubuh. Tujuan: Menentukan pengaruh pelaksanaan intervensi abdominal stretching pada pasien dengan dismenore. Metode: Penelitian ini menggunakan desain studi kasus kualitatif yang melibatkan dua remaja putri dengan dismenorea primer yang mengalami intensitas nyeri sedang. Partisipan dipilih berdasarkan kriteria inklusi dan eksklusi yang telah ditentukan. Intervensi berupa latihan abdominal stretching dilakukan selama 10–15 menit sehari sekali selama tiga hari berturut-turut pada masa menstruasi. Intensitas nyeri diukur menggunakan Numeric Rating Scale (NRS), sedangkan data dikumpulkan melalui wawancara, observasi, dan pemeriksaan fisik. Hasil: Setelah tiga hari berturut-turut dilakukan intervensi abdominal stretching, kedua partisipan menunjukkan penurunan intensitas nyeri. Perbaikan juga terlihat pada kemampuan melakukan aktivitas sehari-hari, berkurangnya ekspresi wajah meringis, serta meningkatnya kenyamanan selama menstruasi. Kesimpulan: Pelaksanaan terapi relaksasi abdominal stretching efektif dalam menurunkan nyeri akut pada remaja dengan dismenorea primer. Oleh karena itu, terapi ini dapat dipertimbangkan sebagai intervensi keperawatan non-farmakologis yang bermanfaat untuk penatalaksanaan dismenorea.
Kata Kunci: Dismenorea; Nyeri akut; Terapi relaksasi abdominal stretching.
Abstrak
Implementasi Terapi Musik Klasik Mozart Dalam Mengurangi Nyeri Pada Pasien Post Operasi Fraktur di Rumah Sakit PKU Muhammadiyah Temanggung
Latar belakang: Fraktur merupakan perihal hilangnya keutuhan serta terputusnya
kontinuitas struktur tulang, baik sebagian maupun seluruhnya. Keadaan ini biasanya
diakibatkan oleh impak langsung yang menghasilkan stress melampaui ambang
ketahanan tulang. Saat fraktur terjadi, jaringan serta struktur di sekitar tulang juga dapat
ikut mengalami gangguan (Susihar et al., 2019). Menurut laporan World Health
Organization (WHO) tahun 2020, kasus fraktur memperlihatkan tren peningkatan.
Pada tahun 2019 tercatat sekitar 15 juta kasus dengan prevalensi 3,2%, sedangkan pada
tahun 2020 jumlahnya melonjak menjadi sekitar 21 juta insiden dengan prevalensi
mencapai 3,8%. Sebelumnya, pada tahun 2018 insiden fraktur mencapai sekitar 13 juta
orang dengan prevalensi 2,7%. Tujuan: Studi ini bertujuan untuk mengetahui
perubahan tingkat nyeri akut pada pasien post operasi fraktur setelah dilakukan terapi
music klasik mozart. Metode: Ini adalah studi kasus kualitatif yang melibatkan dua
pasien post operasi. Data dikumpulkan melalui observasi, wawancara, dan penilaian
skala nyeri menggunakan Numeric Rating Scale (NRS), sebelum dan setelah
menerapkan terapi musik klasik mozart selama 3 hari (sekali sehari selama 10–15
menit). Hasil: Kedua responden menunjukkan penurunan tingkat nyeri, dengan
indikator yang membaik seperti berkurangnya raut wajah kesakitan, kegelisahan,
kesulitan tidur, dan normalisasi tanda-tanda vital. Kesimpulan: Terapi musik klasik
mozart efektif dalam menurunkan tingkat nyeri akut pada pasien post operasi fraktur
dan dapat digunakan sebagai perawatan keperawatan pendukung bersama dengan
pengobatan farmakologis.
Abstrak
IMPLEMENTASI JUS TOMAT UNTUK MENGATASI KETIDAKSTABILAN KADAR GLUKOSA DARAH PADA PASIEN DIABETES MELITUS TIPE 2
ABSTRAK
Latar belakang: Diabetes melitus tipe 2 merupakan penyakit metabolik kronis yang ditandai dengan peningkatan kadar glukosa darah akibat gangguan fungsi insulin. Ketidakstabilan kadar glukosa darah dapat menimbulkan berbagai komplikasi sehingga diperlukan penatalaksanaan yang tepat, termasuk terapi nonfarmakologis. Jus tomat mengandung likopen sebagai antioksidan yang dapat membantu meningkatkan sensitivitas insulin dan menurunkan kadar glukosa darah. Tujuan: Mengetahui implementasi pemberian jus tomat untuk mengatasi ketidakstabilan kadar glukosa darah pada pasien diabetes melitus tipe 2. Metode: Penelitian ini menggunakan metode studi kasus dengan pendekatan deskriptif kualitatif terhadap dua responden perempuan berusia 58 tahun dan 59 tahun dengan diagnosis diabetes melitus tipe 2. Intervensi dilakukan selama tujuh hari berturut-turut dengan pemberian jus tomat sebanyak 200 ml satu kali sehari. Hasil: Setelah pemberian jus tomat selama tujuh hari terjadi penurunan kadar glukosa darah pada kedua responden. Selain itu, keluhan seperti haus berlebih, mudah lelah, dan nafsu makan meningkat mulai berkurang. Kesimpulan: Pemberian jus tomat dapat membantu menurunkan dan menstabilkan kadar glukosa darah pada pasien diabetes melitus tipe 2 sehingga dapat digunakan sebagai terapi komplementer nonfarmakologis.
Kata kunci: Diabetes Melitus Tipe 2; Jus Tomat; Ketidakstabilan Kadar Glukosa Darah.
Abstrak
EFEKTIFITAS PEMBERIAN AIR REBUSAN DAUN KERSEN (MUNTINGIA CALABURA L) UNTUK MENGATASI KETIDAKSTABILAN KADAR GLUKOSA DARAH PADA DIABETES MELLITUS TIPE 2
Latar belakang: Diabetes Mellitus Tipe 2 merupakan penyakit metabolik yang
ditandai dengan meningkatnya kadar glukosa darah akibat gangguan sekresi
maupun resistensi insulin. Ketidakstabilan kadar glukosa darah dapat menyebabkan
berbagai komplikasi apabila tidak ditangani dengan baik. Salah satu terapi
nonfarmakologis yang dapat digunakan adalah pemberian air rebusan daun kersen
(Muntingia calabura L) yang mengandung flavonoid dan saponin sebagai
antidiabetes alami. Tujuan: Mengetahui efektivitas pemberian air rebusan daun
kersen dalam mengatasi ketidakstabilan kadar glukosa darah pada pasien Diabetes
Mellitus Tipe 2. Metode: Penelitian ini menggunakan metode studi kasus dengan
pendekatan deskriptif kualitatif yang melibatkan dua responden penderita Diabetes
Mellitus Tipe 2. Intervensi dilakukan selama tujuh hari berturut-turut dengan
pemberian rebusan daun kersen sebanyak 200 ml satu kali sehari pada pagi hari.
Hasil: Pemberian air rebusan daun kersen menunjukkan adanya penurunan kadar
glukosa darah pada kedua responden serta perbaikan gejala hiperglikemia seperti
rasa haus berlebihan, mulut kering, sering buang air kecil, dan lemah atau lesu.
Kesimpulan: Pemberian air rebusan daun kersen efektif membantu menurunkan
kadar glukosa darah dan memperbaiki kondisi pasien Diabetes Mellitus Tipe 2.
Kata kunci: Diabetes Mellitus Tipe 2; Ketidakstabilan Kadar Glukosa Darah;
Rebusan Daun Kersen.
Email: muniery03@gmail.com
Abstrak
PEMBERIAN AROMATERAPI LEMON (CITRUS LEMON) TERHADAP PENURUNAN NYERI DISMENOREA PADA REMAJA PUTRI
Latar belakang: Dismenorea merupakan masalah kesehatan yang sering dialami
remaja putri pada saat menstruasi. Kondisi ini dapat mengganggu aktivitas,
konsentrasi belajar, dan pola tidur, serta penurunan prestasi remaja putri. Salah
satu terapi nonfarmakologis yang dapat digunakan untuk mengurangi nyeri adalah
aromaterapi lemon. Kandungan limonene pada lemon diketahui dapat
menghambat produksi prostaglandin sehingga membantu menurunkan intensitas
nyeri akibat dismenorea.Tujuan: Mengetahui efektifitas penerapan aromaterapi
lemon terhadap penurunan nyeri dismenorea pada remaja putri. Metode: Studi
kasus ini menggunakan desain kualitatif dengan pendekatan proses asuhan
keperawatan. Subjek studi kasus berjumlah 2 responden yang diambil berdasarkan
kriteria inklusi dan ekslusi tertentu. Pemberian aromaterapi lemon dilakukan
selama 3 hari berturut-turut dengan frekuensi satu kali per hari, setiap pertemuan
dilakukan dalam 2 sesi selama 30 menit. Alat pengumpulan data yang digunakan
untuk mengevaluasi nyeri adalah Numeric Rating Scale.. Hasil: Hasil studi
menunjukan bahwa ada perbedaan skala nyeri sebelum dan sesudah diberikan
aromaterapi lemon pada kedua subjek, dimana skla nyeri pada kedua subjek
menurun dari skala nyeri sedang (4-6) menjadi skala ringan (1-3). Aromaterapi
lemon mampu menurunkan nyeri disminorea pada remaja putri. Diharapkan
aromaterapi lemon dapat diterapkan oleh masyarakat dalam membantu
mengurangi nyeri pada remaja putri disminorea.
Abstrak
IMPLEMENTASI PEMBERIAN TELUR AYAM REBUS UNTUK MENGATASI INTOLERANSI AKTIVITAS PADA REMAJA PUTRI DENGAN ANEMIA
Latar Belakang: Anemia merupakan kondisi penurunan kadar hemoglobin yang menyebabkan terganggunya distribusi oksigen ke jaringan tubuh. Pada remaja putri, anemia didefinisikan sebagai kadar hemoglobin <12 gr/dL, yang dapat mengakibatkan penurunan kebugaran fisik dan intoleransi aktivitas. Apabila tidak ditangani, intoleransi aktivitas dapat menurunkan kualitas hidup serta memicu komplikasi serius, seperti trombosis vena dalam dan pneumonia. Proses sintesis hemoglobin bergantung pada kecukupan asupan zat besi, serta peran transferrin dalam mengangkut zat besi ke sumsum tulang dan ferritin dalam menyimpan cadangan zat besi sesuai kebutuhan tubuh. Oleh karena itu, konsumsi telur ayam kampung rebus sebagai sumber zat besi dan protein esensial merupakan salah satu intervensi nonfarmakologis yang berpotensi meningkatkan kadar hemoglobin dan toleransi aktivitas pada remaja putri yang mengalami anemia. Tujuan: Mengetahui efektivitas konsumsi telur ayam kampung rebus dalam mengatasi intoleransi aktivitas pada remaja putri dengan anemia. Metode: Penelitian ini menggunakan desain studi kasus dengan pendekatan deskriptif kualitatif yang melibatkan dua subjek studi kasus. Intervensi dilakukan selama 7 hari melalui pemberian telur ayam kampung rebus, kemudian dilakukan evaluasi terhadap kadar hemoglobin dan toleransi aktivitas. Hasil: Terjadi peningkatan kadar hemoglobin pada subjek studi kasus pertama dari 10,8 gr/dL menjadi 11,4 gr/dL, dan pada subjek studi kasus kedua dari 9,8 gr/dL menjadi 10,4 gr/dL. Selain itu, kedua subjek juga menunjukkan peningkatan toleransi terhadap aktivitas. Kesimpulan: Konsumsi telur ayam kampung rebus berpotensi meningkatkan kadar hemoglobin dan toleransi aktivitas pada remaja putri dengan anemia, sehingga dapat dijadikan sebagai salah satu intervensi nonfarmakologis.
Kata Kunci: Anemia, Intoleransi Aktivitas, Pemberian Telur Ayam Rebus
Background: Anemia is a condition of decreased hemoglobin levels that disrupts oxygen distribution to body tissues. In adolescent girls, anemia is defined as a hemoglobin level of <12 gr/dL, which can lead to reduced physical fitness and activity intolerance. If left untreated, activity intolerance may diminish quality of life and trigger serious complications such as deep vein thrombosis and pneumonia. The process of hemoglobin synthesis depends on adequate iron intake as well as the role of transferrin in transporting iron to the bone marrow and ferritin in storing iron reserves according to the body's needs. Therefore, the consumption of free-range chicken eggs as a source of iron and essential protein represents a non-pharmacological intervention with the potential to improve hemoglobin levels and activity tolerance in anemic adolescent girls. Objective: To determine the effectiveness of boiled free-range chicken egg consumption in addressing activity intolerance in adolescent girls with anemia. Methods: This study employed a case study design with a qualitative descriptive approach involving two case study subjects. The intervention was conducted over 7 days with the administration of boiled free-range chicken eggs, followed by evaluation of hemoglobin levels and activity tolerance. Results: An increase in hemoglobin levels was observed in the first case study subject from 10.8 gr/dL to 11.4 gr/dL, and in the second case study subject from 9.8 gr/dL to 10.4 gr/dL, along with improved activity tolerance in both subjects. Conclusion: Boiled free-range chicken eggs have the potential to increase hemoglobin levels and activity tolerance in adolescent girls with anemia, and thus may serve as a non-pharmacological intervention.
Keywords: Anemia, Activity Intolerance, Providing Boiled Chicken Eggs
Abstrak
IMPLEMENTASI PEMBERIAN DIIT NASI JAGUNG SEBAGAI UPAYA PENURUNAN KADAR GLUKOSA DARAH PADA PENDERITA DIABETES MELITUS
IMPLEMENTASI PEMBERIAN DIIT NASI JAGUNG SEBAGAI UPAYA PENURUNAN KADAR GLUKOSA DARAH PADA PENDERITA DIABETES MELITUS
ABSTRAK
Latar Belakang: Diabetes melitus merupakan penyakit metabolik kronis yang ditandai dengan peningkatan kadar glukosa darah akibat gangguan sekresi maupun fungsi kerja insulin. Ketidakstabilan kadar glukosa darah pada penderita diabetes melitus dapat menyebabkan berbagai masalah kesehatan sehingga diperlukan pengelolaan yang tepat, salah satunya melalui pengaturan diit. Nasi jagung memiliki indeks glikemik lebih rendah dibandingkan nasi putih sehingga dapat digunakan sebagai alternatif sumber karbohidrat untuk membantu mengontrol kadar glukosa darah. Tujuan: Mengetahui implementasi pemberian diit nasi jagung sebagai upaya mengatasi masalah keperawatan ketidakstabilan kadar glukosa darah pada penderita diabetes melitus. Metode: Penelitian ini menggunakan metode studi kasus dengan pendekatan deskriptif yang melibatkan dua responden penderita diabetes melitus. Intervensi dilakukan selama 7 hari dengan pemberian diit nasi jagung sebanyak 150 gram sebagai pengganti nasi putih, diberikan 3 kali sehari (pagi, siang, dan malam). Hasil: Pemberian diit nasi jagung menunjukkan hasil positif dalam membantu mengontrol kadar glukosa darah pada kedua responden. Hal ini ditandai dengan penurunan kadar glukosa darah sewaktu pada Ny. H dari 353 mg/dL menjadi 260 mg/dL dan pada Ny. J dari 300 mg/dL menjadi 260 mg/dL. Selain itu, terdapat perbaikan kondisi yang ditandai dengan berkurangnya keluhan lemah, ngantuk, pusing, rasa haus, serta frekuensi buang air kecil. Kesimpulan: Pemberian diit nasi jagung dapat membantu mengontrol kadar glukosa darah dan memperbaiki kestabilan kadar glukosa darah pada penderita diabetes melitus.
Kata kunci: Diabetes Melitus; Ketidakstabilan Kadar Glukosa Darah; Diit Nasi Jagung.
Abstrak
IMPLEMENTASI TERAPI TIUP BALON UNTUK MENGATASI POLA NAPAS TIDAK EFEKTIF PADA ANAK ASMA DI RUANG MULTAZAM RUMAH SAKIT PKU MUHAMMADIYAH TEMANGGUNG
Latar belakang: Asma merupakan penyakit inflamasi kronis pada saluran pernapasan yang terjadi akibat penyempitan jalan napas dan peningkatan respons terhadap berbagai rangsangan. Asma menyebabkan munculnya gejala seperti sesak napas, batuk, dan mengi akibat terganggunya proses ventilasi dan pertukaran gas. Gangguan pernapasan tersebut dapat mengakibatkan pola napas tidak efektif sehingga kebutuhan oksigen dalam tubuh tidak terpenuhi secara optimal. Tujuan: Mengetahui bagaimana implementasi terapi blowing ballon (tiup balon) sebagai solusi untuk masalah keperawatan pola napas tidak efektif pasien asma. Metode: Penelitian ini menggunakan metode studi kasus dengan pendekatan deskriptif kualitatif yang melibatkan dua responden. Intervensi dilaksanakan selama tiga hari pada anak berusia 4 tahun dan 6 tahun. Hasil: Terapi tiup balon selama tiga hari menunjukkan perbaikan pola napas pada anak asma, ditandai penurunan frekuensi napas dari 29–30 menjadi 22 kali/menit, peningkatan SpO₂ hingga 98%. Dibuktikan dengan dispnea menurun, penggunaan otot bantu napas menurun, pemanjangan fase ekpirasi menurun, penapasan pursed-lip menurun, frekuensi napas membaik seta kedalaman napas membaik. Kesimpulan: Pelaksanaan terapi tiup balon dapat memberikan efek memperbaiki pola napas pada pasien asma
Abstrak
PENERAPAN TERAPI BERMAIN: MEWARNAI UNTUK MENURUNKAN ANSIETAS (HOSPITALISASI) PADA ANAK USIA 3-6 TAHUN DI RUANG MULTAZAM RUMAH SAKIT PKU MUHAMADIYAH TEMANGGUNG
PENERAPAN TERAPI BERMAIN: MEWARNAI UNTUK MENURUNKAN ANSIETAS (HOSPITALISASI) PADA ANAK USIA 3-6 TAHUN
DI RUANG MULTAZAM RUMAH SAKIT PKU MUHAMADIYAH TEMANGGUNG
ABSTRAK
Latar belakang: Hospitalisasi pada anak dapat menimbulkan ansietas akibat perubahan lingkungan, tindakan medis, dan perpisahan dengan orang tua. Kondisi ini dapat memengaruhi proses penyembuhan serta kerja sama anak selama perawatan. Salah satu upaya nonfarmakologis yang dapat dilakukan adalah terapi bermain melalui kegiatan mewarnai. Tujuan: Untuk mengetahui penerapan terapi bermain mewarnai dalam menurunkan ansietas pada anak usia 3–6 tahun yang mengalami hospitalisasi. Metode: Penelitian ini menggunakan metode studi kasus dengan pendekatan deskriptif kualitatif pada dua responden anak usia prasekolah. Intervensi terapi bermain mewarnai dilakukan satu kali sehari selama tiga hari berturut-turut dengan durasi 15–30 menit. Hasil: Setelah intervensi, terjadi penurunan tingkat ansietas yang ditandai dengan anak lebih tenang, tidak rewel, lebih kooperatif, serta mengalami peningkatan konsentrasi dan pola tidur. Kesimpulan: Terapi bermain mewarnai dapat digunakan sebagai intervensi nonfarmakologis untuk membantu menurunkan ansietas pada anak usia prasekolah yang menjalani hospitalisasi.
Kata kunci: Ansietas; Hospitalisasi; Terapi Bermain Mewarnai
Abstrak
IMPLEMENTASI TERAPI CERMIN (MIRROR THERAPY) UNTUK MEMPERBAIKI GANGGUAN MOBILITAS FISIK PADA PASIEN PASCA STROKE NON HEMORAGIK
Latar Belakang: Stroke non-hemoragik merupakan gangguan neurologis akibat terhambatnya aliran darah ke otak yang menyebabkan kerusakan jaringan otak dan defisit neurologis, terutama hemiparesis. Kondisi ini menimbulkan gangguan mobilitas fisik berupa penurunan kekuatan otot, keterbatasan rentang gerak, gangguan koordinasi, dan penurunan kemampuan melakukan aktivitas sehari-hari. Salah satu intervensi nonfarmakologis yang dapat diberikan adalah mirror therapy, yaitu terapi menggunakan umpan balik visual melalui cermin untuk menstimulasi korteks motorik dan meningkatkan neuroplastisitas. Tujuan: Mengetahui efektivitas mirror therapy dalam meningkatkan mobilitas fisik pada pasien stroke non-hemoragik. Metode: Penelitian ini menggunakan desain studi kasus deskriptif pada dua pasien stroke non-hemoragik dengan gangguan mobilitas fisik. Intervensi berupa mirror therapy dilakukan satu kali sehari selama 6 hari berturut-turut dengan durasi 15 menit setiap sesi. Evaluasi dilakukan menggunakan Manual Muscle Testing (MMT) dan indikator mobilitas fisik. Hasil: Kekuatan otot pada subjek pertama meningkat dari skala MMT 2 menjadi 3 dan pada subjek kedua dari skala MMT 3 menjadi 4. Kedua subjek juga menunjukkan peningkatan mobilitas fisik yang ditandai dengan berkurangnya keterbatasan gerak serta meningkatnya kemampuan menggerakkan ekstremitas yang lemah.
Kesimpulan: Mirror therapy efektif meningkatkan kekuatan otot dan mobilitas fisik pada pasien stroke non-hemoragik.
Kata kunci: Gangguan Mobilitas Fisik, Mirror Therapy, Stroke Non-Hemoragik
Abstrak
PENGARUH SENAM DISMENOREA TERHADAP PENURUNAN NYERI PADA REMAJA YANG MENGALAMI DISMENOREA
ABSTRAK
Latar Belakang: Dismenorea merupakan nyeri menstruasi yang sering dialami
remaja putri akibat peningkatan prostaglandin yang memicu kontraksi uterus
berlebihan sehingga menimbulkan nyeri akut. Kondisi ini dapat mengganggu
aktivitas sehari-hari dan kualitas hidup remaja. Salah satu intervensi
nonfarmakologis yang dapat dilakukan untuk mengurangi nyeri adalah senam
dismenorea. Tujuan: Mengetahui pengaruh senam dismenorea terhadap penurunan
nyeri pada remaja putri yang mengalami dismenorea. Metode: Penelitian
menggunakan desain studi kasus dengan pendekatan deskriptif kualitatif pada dua
responden remaja putri yang mengalami dismenorea dengan nyeri sedang.
Intervensi dilakukan selama 1 minggu sebanyak 3 kali dengan penerapan senam
dismenorea. Pengukuran tingkat nyeri dilakukan menggunakan skala Numerical
Rating Scale (NRS) sebelum dan sesudah intervensi. Hasil: Hasil penelitian
menunjukkan adanya penurunan tingkat nyeri pada kedua responden setelah
dilakukan senam dismenorea. Pada responden pertama terjadi penurunan dari nyeri
sedang menjadi cukup menurun, sedangkan pada responden kedua terjadi
penurunan dari nyeri sedang menjadi ringan. Kesimpulan: Senam dismenorea
efektif dalam menurunkan intensitas nyeri pada remaja putri yang mengalami
dismenorea sehingga dapat digunakan sebagai intervensi nonfarmakologis dalam
manajemen nyeri akut.
Kata Kunci: Dismenorea, Nyeri Akut, Senam Dismenorea, Remaja Putri
vii
THE EFFECT OF DYSMENORRHEA EXERCISES ON PAIN REDUCTION
IN ADOLESCENTS EXPERIENCING DYSMENORRHEA
ABSTRACT
Background: Dysmenorrhea is menstrual pain often experienced by adolescent
girls due to increased prostaglandins that trigger excessive uterine contractions,
resulting in acute pain. This condition can disrupt daily activities and quality of
life. One non-pharmacological intervention that can be done to reduce pain is
dysmenorrhea exercises. Objective: To determine the effect of dysmenorrhea
exercises on pain reduction in adolescent girls with dysmenorrhea. Methods: The
study used a case study design with a qualitative descriptive approach in two
adolescent girls with moderate dysmenorrhea. The intervention was carried out
three times a week, using dysmenorrhea exercises. Pain levels were measured using
the Numerical Rating Scale (NRS) before and after the intervention. Results: The
results showed a decrease in pain levels in both respondents after dysmenorrhea
exercises. In the first respondent, pain decreased from moderate to moderate, while
in the second respondent, pain decreased from moderate to mild. Conclusion:
Dysmenorrhea exercises are effective in reducing pain intensity in adolescent girls
experiencing dysmenorrhea and can therefore be used as a non-pharmacological
intervention in acute pain management.
Keywords: Dysmenorrhea, Acute Pain, Dysmenorrhea Exercises, Adolescent Girls
Abstrak
EFEKTIFITAS TERAPI BERMAIN MEWARNAI DALAM MENINGKATKAN STATUS PERKEMBANGAN (MOTORIK HALUS) PADA ANAK USIA DINI DENGAN RISIKO GANGGUAN PERKEMBANGAN
Latar Belakang: Risiko gangguan perkembangan pada anak usia dini dapat memengaruhi pencapaian tugas perkembangan, khususnya motorik halus. Salah satu upaya stimulasi yang dapat diberikan adalah terapi bermain mewarnai untuk melatih koordinasi mata dan tangan serta meningkatkan keterampilan motorik halus. Tujuan: Mengetahui efektivitas terapi bermain mewarnai dalam meningkatkan status perkembangan motorik halus pada anak usia dini dengan risiko gangguan perkembangan. Metode: Penelitian ini menggunakan metode studi kasus dengan pendekatan asuhan keperawatan pada dua anak usia dini yang memenuhi kriteria inklusi. Pengumpulan data dilakukan melalui pengkajian faktor risiko gangguan perkembangan dengan metode wawancara, penialain KPSP, serta observasi kemampuan mewarnai. Dan evaluasi menggunakan Lembar luaran status perkembangan dan kemampuan mewarnai. Intervensi berupa terapi bermain mewarnai diberikan selama tiga hari berturut-turut dengan durasi 15 menit setiap sesi. Hasil: Terapi bermain mewarnai meningkatkan status perkembangan motorik halus anak yang ditunjukkan oleh perbaikan koordinasi mata dan tangan, kemampuan memegang alat mewarnai, peningkatan konsentrasi, serta hasil pewarnaan yang lebih rapi. Hasil menunjukkan peningkatan motorik halus setelah intervensi. Kesimpulan: Terapi bermain mewarnai efektif sebagai intervensi keperawatan nonfarmakologis untuk meningkatkan status perkembangan motorik halus anak usia dini dengan risiko gangguan perkembangan.
Abstrak
PERMAINAN PUZZLE UNTUK MENGURANGI ANSIETAS PADA ANAK PRASEKOLAH (5-6 TAHUN) DENGAN PROSEDUR INJEKSI INTRAVENA
Latar Belakang: Anak usia prasekolah sering mengalami kecemasan ketika menjalani hospitalisasi, terutama saat menghadapi prosedur invasif seperti injeksi intravena. Ketakutan terhadap jarum suntik, rasa nyeri, serta lingkungan rumah sakit yang belum familiar dapat memicu respons emosional yang berdampak pada kerja sama anak selama tindakan. Terapi diversional dengan permainan puzzle adalah salah satu metode nonfarmakologis yang dapat membantu mengurangi kecemasan. Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk menggambarkan penerapan terapi diversional melalui permainan puzzle dalam menurunkan tingkat ansietas pada anak prasekolah usia 5–6 tahun yang menjalani prosedur injeksi intravena di RS PKU Muhammadiyah Temanggung. Metode: Penelitian dilakukan melalui studi kasus deskriptif terhadap dua anak prasekolah berusia lima hingga enam tahun yang mengalami kecemasan sebelum menerima injeksi intravena. Tingkat kecemasan dievaluasi menggunakan kuesioner Preschool Anxiety Scale (PAS). Intervensi berupa permainan puzzle diberikan selama kurang lebih 15–20 menit sebelum dan sesudah tindakan sesuai dengan Standar Operasional Prosedur (SOP). Pengumpulan data dilakukan melalui wawancara, observasi, dokumentasi, serta penilaian menggunakan kuesioner PAS. Data kemudian dianalisis secara deskriptif dengan membandingkan kondisi responden sebelum dan sesudah intervensi. Hasil: Pemberian terapi diversional melalui permainan puzzle menunjukkan perubahan positif pada kedua responden. Setelah intervensi, anak tampak lebih rileks, mampu mengendalikan rasa takut, lebih mudah diajak bekerja sama, serta mengikuti prosedur injeksi intravena dengan lebih tenang. Hasil pengukuran menggunakan kuesioner Preschool Anxiety Scale (PAS) memperlihatkan penurunan tingkat kecemasan, yang didukung oleh evaluasi Standar Luaran Keperawatan Indonesia (SLKI) berupa berkurangnya perilaku gelisah, ketegangan, dan ungkapan rasa takut selama tindakan berlangsung. Kesimpulan: Permainan puzzle merupakan salah satu intervensi keperawatan nonfarmakologis yang efektif dalam membantu menurunkan kecemasan pada anak prasekolah yang menjalani prosedur injeksi intravena. Pelaksanaan terapi yang disertai keterlibatan orang tua melalui pendekatan Family Centered Care dapat meningkatkan rasa aman dan kenyamanan anak sehingga mendukung keberhasilan penerapan prinsip atraumatic care dalam pelayanan keperawatan anak.
Kata kunci: anak prasekolah, kecemasan, injeksi intravena, permainan puzzle, terapi diversional.
Background : Preschool children frequently experience anxiety during hospitalization, particularly when undergoing invasive procedures such as intravenous injection. Fear of needles, pain, and an unfamiliar hospital environment may trigger emotional responses that affect the child's cooperation during medical procedures. One of the non-pharmacological interventions that can be used to reduce anxiety is diversional therapy through puzzle play as a distraction technique. Objective : This study aimed to describe the implementation of diversional therapy through puzzle play in reducing anxiety among preschool children aged 5–6 years undergoing intravenous injection at PKU Muhammadiyah Temanggung Hospital. Methods : Two preschoolers, ages five and six, who had anxiety prior to intravenous injection were the subjects of a descriptive case study. Anxiety levels were assessed using the Preschool Anxiety Scale (PAS) questionnaire. The intervention consisted of puzzle play therapy, which was administered for approximately 15–20 minutes before and after the procedure according to the Standard Operating Procedure (SOP). Data were collected through interviews, observations, documentation, and assessment using the PAS questionnaire. The data were analyzed descriptively by comparing the participants' conditions before and after the intervention. Results : Diversional therapy through puzzle play produced positive outcomes in both participants. Following the intervention, the children appeared calmer, were better able to control their fear, became more cooperative, and underwent the intravenous injection procedure more comfortably. The results of the Preschool Anxiety Scale (PAS) assessment demonstrated a reduction in anxiety levels, which was supported by improvements in the Indonesian Nursing Outcomes Standards (SLKI), including decreased restlessness, reduced tension, and fewer expressions of fear during the procedure. Conclusion : Puzzle play is an effective non-pharmacological nursing intervention for reducing anxiety in preschool children undergoing intravenous injection. The implementation of the therapy, combined with parental involvement through a Family-Centered Care (FCC) approach, enhances children's sense of security and comfort, thereby supporting the successful implementation of atraumatic care principles in pediatric nursing practice.
Keywords: preschool children, anxiety, puzzle play, intravenous injection, diversional therapy.
Abstrak
EFEKTIVITAS PEMBERIAN KOMPRES HANGAT UNTUK MENGURANG NYERI AKUT PADA PASIEN GASTRITIS
Latar Belakang : Gastritis adalah peradangan pada lapisan lambung yang sering menyebabkan nyeri tajam di area epigastrium, sehingga mengganggu aktivitas dan kenyamanan pasien. Selain pengobatan medis, kompres hangat dapat dimanfaatkan sebagai intervensi nonmedis untuk membantu meredakan rasa sakit melalui relaksasi otot, peningkatan aliran darah, dan stimulasi pelepasan endorfin. Studi ini berfokus pada mendeskripsikan efektivitas penggunaan kompres hangat untuk pasien gastritis.
Metode : Studi ini menerapkan metode kualitatif melalui pendekatan studi kasus deskriptif pada dua pasien dengan gastritis di area Puskesmas Ngadirejo, Kabupaten Temanggung. Data diperoleh melalui wawancara, observasi, pemeriksaan fisik, dan penilaian nyeri dengan menggunakan Numeric Rating Scale (NRS). Kompres hangat dengan suhu 40–42°C diterapkan pada daerah epigastrium selama 10–20 menit, sekali sehari selama tiga hari berturut-turut. Hasil : menunjukkan kedua pasien mengalami penurunan tingkat nyeri dari kategori sedang menjadi ringan, disertai penurunan ekspresi meringis dan kecemasan serta peningkatan kenyamanan tanpa adanya perubahan tanda vital di luar batas normal. Analisis : mengindikasikan bahwa kompres hangat ampuh mengurangi nyeri akut. Kesipulan : Oleh karena itu, kompres hangat bisa menjadi intervensi nonfarmakologis yang aman, praktis, dan terjangkau dalam mendukung perawatan keperawatan bagi pasien gastritis.
Abstrak
EFEKTIVITAS CUCI HIDUNG DENGAN LARUTAN SALIN ISOTONIS TERHADAP PENURUNAN KONGESTI HIDUNG PADA PENDERITA INFEKSI SALURAN PERNAPASAN AKUT (ISPA)
TERAPI CUCI HIDUNG DENGAN LARUTAN SALIN ISOTONIS TERHADAP PENURUNAN KONGESTI HIDUNG PADA PENDERITA INFEKSI SALURAN PERNAPASAN AKUT (ISPA)TERAPI CUCI HIDUNG DENGAN LARUTAN SALIN ISOTONIS TERHADAP PENURUNAN KONGESTI HIDUNG PADA PENDERITA INFEKSI SALURAN PERNAPASAN AKUT (ISPA)
Latar belakang: Penyakit Infeksi Saluran Pernafasan Akut (ISPA) merupakan penyakit infeksi bersifat akut yang menyebabkan kesakitan dan kematian anak paling banyak terutama dinegara berkembang, termasuk Indonesia. ISPA adalah infeksi akut pada saluran pernafasan, mulai dari hidung hingga alveoli, beserta jaringan terkait seperti sinus, rongga telinga tengah, dan pleura. Virus atau bakteri menjadikan invasi pada saluran pernapasan atas menjadi kuman berlebih, kemudian terjadi proses peradangan dan akhirnya terdapat penumpukan sekret di bronkus. Akibatnya muncul masalah keperawatan yaitu bersihan saluran napas yang tidak efektif. Tujuan: Mengetahui bagaimana efektivitas penerapan intervensi cuci hidung dengan larutan salin isotonis untuk mengatasi masalah bersihan saluran napas yang tidak efektif pada pasien ISPA. Metode: Metode penelitian menggunakan studi kasus. Dalam penelitian ini, terdapat 2 pasien berusia 6 tahun yang menderita ISPA sesuai dengan kriteria inklusi. Hasil: Hasil analisa didapatkan bahwa setelah dilakukan intervensi selama 5 hari yaitu setiap pagi dan sore, bersihan saluran nafas pasien kembali efektif dibuktikan dengan tidak adanya penumpukan sekret, batuk, dan suara nafas tambahan ronkhi berkurang. Kesimpulan: Pemberian terapi cuci hidung sederhana dengan salin isotonis efektif untuk mengatasi masalah bersihan saluran napas yang tidak efektif pada anak penderita ISPA.
Abstrak
PEMBERIAN LARUTAN JERUK NIPIS DAN KECAP UNTUK MENINGKATKAN BERSIHAN JALAN NAPAS PADA ANAK PENDERITA INFEKSI SALURAN PERNAFASAN AKUT (ISPA)
Latar belakang : Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) pada anak sering menyebabkan bersihan jalan napas tidak efektif akibat penumpukan sekret. Terapi komplementer berupa campuran jeruk nipis dan kecap diduga membantu mengencerkan sekret dan mengurangi batuk.. Tujuan: Mendeskripsikan efektivitas pemberian campuran jeruk nipis dan kecap terhadap peningkatan bersihan jalan napas pada anak dengan ISPA. Metode: Studi kasus deskriptif pada dua anak usia 1–5 tahun dengan ISPA dan bersihan jalan napas tidak efektif. Intervensi berupa campuran jeruk nipis, kecap manis, dan air hangat diberikan tiga kali sehari selama tiga hari. Evaluasi dilakukan melalui observasi batuk, produksi sekret, bunyi napas, frekuensi napas, dan kemampuan mengeluarkan sekret. Hasil : Setelah tiga hari intervensi, kedua responden menunjukkan perbaikan kondisi bersihan jalan napas yang ditandai dengan penurunan frekuensi batuk, sekret lebih mudah dikeluarkan, berkurangnya bunyi napas tambahan, pola napas yang membaik, serta peningkatan kemampuan membersihkan jalan napas. Hasil tersebut menunjukkan bahwa pemberian campuran jeruk nipis dan kecap dapat membantu meningkatkan bersihan jalan napas pada anak dengan ISPA sebagai terapi pendukung bersama asuhan keperawatan. Kesimpulan : Campuran jeruk nipis dan kecap berpotensi menjadi terapi komplementer yang sederhana untuk membantu meningkatkan bersihan jalan napas pada anak dengan ISPA.
Kata Kunci : ISPA, anak, bersihan jalan napas tidak efektif, jeruk nipis, kecap, terapi komplementer.
Background : Acute Respiratory Infection (ARI) in children often causes ineffective airway clearance due to mucus accumulation. A complementary therapy using a mixture of lime and sweet soy sauce is believed to help thin mucus and relieve cough.. Objective: To describe the effectiveness of administering a mixture of lime and sweet soy sauce in improving airway clearance among children with Acute Respiratory Infection. Methods : This descriptive case study involved two children aged 1–5 years with ARI and ineffective airway clearance. The intervention consisted of administering a mixture of lime, sweet soy sauce, and warm water three times daily for three consecutive days. Outcomes were evaluated by observing cough, sputum production, breath sounds, respiratory rate, and the ability to expectorate sputum. Results : After three days of intervention, both participants showed improved airway clearance, as indicated by reduced cough frequency, easier sputum expectoration, decreased adventitious breath sounds, improved breathing patterns, and enhanced airway clearance. These findings suggest that the mixture of lime and sweet soy sauce may improve airway clearance in children with ARI as a complementary therapy alongside nursing care. Conclusion : A mixture of lime and sweet soy sauce has the potential to serve as a simple complementary therapy to improve airway clearance in children with ARI.
Keywords : Acute Respiratory Infection, children, ineffective airway clearance, lime, sweet soy sauce.
Abstrak
Pengaruh Teknik Distraksi Audiovisual Terhadap Anisetas Anak Prasekolah Dengan Pneumonia Saat Tindakan Nebulizer Di Rumah Sakit
Latar Belakang: Pneumonia merupakan penyebab utama mortalitas pada anak balita. Salah satu penatalaksanaan pada pneumonia adalah terapi nebulizer. Meskipun tidak menimbulkan rasa sakit, tindakan nebulizer sering memicu ansietas pada anak karena rasa asing terhadap alat, suara, dan masker yang digunakan. Ansietas yang tidak dikelola dengan baik dapat mengganggu proses terapi sehingga obat tidak terhirup secara optimal. Salah satu intervensi nonfarmakologis untuk mengatasi ansietas adalah teknik distraksi audiovisual berupa tayangan video kartun/animasi. Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efektivitas teknik distraksi audiovisual terhadap tingkat ansietas anak pra sekolah dengan pneumonia saat dilakukan tindakan nebulizer di rumah sakit. Metode: Penelitian menggunakan pendekatan studi kasus deskriptif kualitatif pada dua subjek anak pra sekolah berusia 5 tahun yang terdiagnosis pneumonia dan mendapatkan terapi nebulizer di RS PKU Muhammadiyah Temanggung. Intervensi teknik distraksi audiovisual diberikan selama tiga hari berturut-turut, satu kali sehari selama 15 menit, mengikuti Standar Prosedur Operasional (SPO). Evaluasi ansietas dilakukan menggunakan instrumen Face Image Scale (FIS) dan luaran Tingkat Ansietas (L.09093). Hasil: Kedua subjek studi kasus mengalami penurunan tingkat ansietas yang bermakna setelah diberikan intervensi selama tiga hari. Skor FIS menurun dari skor 4 dan 3 (kategori kecemasan ringan-kecemasan cukup tinggi) menjadi skor 1 (tidak cemas) pada hari ketiga. Perbaikan juga tampak pada indicator merasa bingung, verbalisasi khawatir akibat kondisi yang dihadapi, konsentrasi, perilaku gelisah, perilaku tegang, dan kontak mata. Kesimpulan: Teknik distraksi audiovisual efektif dalam menurunkan tingkat ansietas anak pra sekolah dengan pneumonia selama menjalani tindakan nebulizer di rumah sakit.
Kata kunci: Distraksi Audiovisual, Ansietas, Pneumonia, Anak Pra Sekolah, Nebulizer
Abstrak
Efektivitas Pemberian Susu Kedelai Dalam Menurunkan Nyeri Akut Pada Remaja Putri Dengan Doismenore
Dismenore merupakan keluhan nyeri pada area perut bawah yang sering dirasakan remaja putri dan dapat mengganggu aktivitas sehari-hari, kualitas tidur, ekpresi meringiss, serta kenyamanan selama menstruasi. Sehingga diperlukan intervensi yang tepat yaitu pemberian susu kedelai. Metode: Penelitian ini menggunakan desain studi kasus deskriptif terhadap dua remaja putri dengan usia 14-16 tahun dengan dismenore. Intervensi pemberian susu kedelai dilakukan selama dua hari dimulai dari hari pertama mentruasi. Tingkat nyeri diukur dengan lembar pengkajian nyeri yang dilengkapi Numeric Rating Scale (NRS), metode PQRST, serta evaluasi tingkat nyeri. Hasil: Evaluasi menunjukkan adanya penurunan intensitas nyeri setelah pemberian susu kedelai. Penurunan ini diiringi dengan peningkatan kemampuan menuntaskan aktivitas, penurunan tingkat kesulitan tidur, dan penurunan sikap protektif. Susu kedelai terbukti membantu mengurangi rasa nyeri. Analisis: pemberian susu kedelai menunjukan efektivitas menurunkan nyeri pada remaja dengan dismenore. Penurunan intensitas nyeri juga disertai dengan perbaikan kondisi klinis. Hasil ini menunjukan bahwa susu kedelai dapat dijadikan salah satu alternatif nonfarmakologi untuk mengurangi nyeri. Kesimpulan: Pemberian susu kedelai membantu menurunkan nyeri akut pada remaja putri dengan dismenore dan membantu meningkatkan kenyamanan selama menstruasi.
Abstrak
Implementasi Pemberian Kompres Hangat Terhadap Penurunan Nyeri Akut pada Dismenorea
Latar Belakang: Dismenorea merupakan keluhan nyeri saat menstruasi yang biasanya dirasakan sebagai kram tajam maupun tumpul perut bagian bawah kadang menjalar hingga punggung serta paha. Gejalanya berupa sakit kepala, nyeri payudara, perut terasa kembung, kelelahan, mudah tersinggung, cemas, hingga gangguan tidur. Tujuan: Tujuan penelitian ini adalah memberikan penatalaksanaan asuhan keperawatan nyeri akut akibat dismenorea. Metode: Penelitian ini menggunakan metode studi kasus pendekatan kualitatif yang melibatkan 2 responden yang menderita dismenorea. Intervensi dilaksanakan selama 3 hari pada remaja wanita usia 17 tahun dan 18 tahun. Hasil: Kompres hangat yang diberikan selama 2 kali sehari pagi dan sore dalam 3 hari berturut-turut efektif untuk mengurangi nyeri akut pada penderita dismenorea ditandai skala nyeri menurun dari skala 6 dan 7 (1-10) menjadi skala 1 dan 2. Dibuktikan dengan mengeluh nyeri menurun, tampak meringis menurun, bersikap protektif menurun, gelisah menurun, frekuensi nadi meningkat, sulit tidur menurun. Kesimpulan: Pemberian kompres hangat efektif untuk menurunkan nyeri akut pada dismenorea.
Kata Kunci: Dismenorea, Kompres Hangat, Nyeri Akut
Background: Dysmenorrhea is a complaint of pain during menstruation which is usually felt as sharp or dull cramps in the lower abdomen, sometimes radiating to the back and thighs, with symptoms including headaches, breast pain, bloating, fatigue, irritability, anxiety, and sleep disturbances. Objective: The purpose of this study was to provide nursing care management for acute pain caused by dysmenorrhea. Methods: This study used a qualitative case study approach involving 2 respondents suffering from dysmenorrhea, with interventions carried out for 3 days on female adolescents aged 17 and 18 years. Results: Warm compresses applied twice daily, in the morning and evening for 3 consecutive days, were effective in reducing acute pain in patients with dysmenorrhea, as indicated by a decrease in pain scale from 7 (1–10) to scale 1 and 2, evidenced by reduced pain complaints, decreased grimacing, reduced protective behavior, decreased restlessness, increased pulse frequency, and reduced sleep difficulties. Conclusion: The application of warm compresses is effective in reducing acute pain in dysmenorrhea.
Keywords: Dysmenorrhea, Warm Compress, Acute Pain.
Abstrak
Efektivitas Jus Apel Hijau Granny Smith Untuk Mengatasi Masalah Nyeri Akut Pada Pasien Lansia Hiperkolesterolemia
ABSTRAK
Latar Belakang: Kolesterol merupakan senyawa alami diproduksi oleh tubuh dan berperan sebagai komponen dasar dalam pembentukan hormon penting yang dibutuhkan untuk mengatur proses pertumbuhan serta berbagai mekanisme fisiologis dalam tubuh. Hiperkolesterolemia ditandai dengan keluhan nyeri kepala, lemas, kelelahan, gelisah, munculnya keringat dingin, mual, muntah, kaku kuduk, pandangan menjadi kabur, serta sakit dada yang bisa menyebar ke lengan, punggung, maupun rahang. Jika tidak ditangani dengan tepat dapat menyebabkan komplikasi serius pada tubuh, seperti penyakit jantung koroner, stroke, hipertensi, dan gangguan metabolik. Tujuan: Mengetahui efektivitas pemberian jus apel hijau untuk mengurangi nyeri akut pada lansia dengan hiperkolesterolemia. Metode: Penelitian menggunakan studi kasus, kadar kolesterol dapat diukur menggunakan alat glucometer. saat pengkajian dilakukan pemeriksaan kolesterol, sebelum pemberian jus apel hijau dan dilakukan pemeriksaan setelah pemberian jus dan diukur setelah intervensi selesai. Pemberian jus apel dilkaukan selama 7 hari secara berturut-turut dalam satu minggu, dilakukan pemberian sore hari sebelum berbuka puasa, sebelum makan hari dan satu kali sehari. Jumlah responden sebanyak 2 orang dengan kriteria Perempuan, mengalami kolesterol diatas 200, dengan usia >60 Tahun, Mempunyai masalah nyeri akut, bersedia menjadi responden, responden tidak mempunyai alergi minum jus apel hijau dan tidak komplikasi. Hasil: Kadar kolesterol responden (1) 262 mg/dl menjadi 178 mg/dl, responden (2) 220 mg/dl menjadi 162. Kesimpulan: Jus apel hijau dapat memberikan efek dalam menurunkan kadar kolesterol pada penderita hiperkolesterolemia hingga batas normal dan berpotensi menjadi terapi nonfarmakologis dalam penurunan kadar kolesterol. Jus apel hijau memberi manfaat untuk menurunkan kadar kolesterol pada penderita hiperkolesterolemia.
Kata kunci: Hiperkolesterolemia; Jus apel hijau; Nyeri
Abstrak
PENERAPAN TINDAKAN DUKUNGAN MOBILISASI UNTUK MENINGKATKAN MOBILITAS FISIK PADA PASIEN POST OPERASI APENDIKTOMI DI RUANG MARWA RUMAH SAKIT PKU MUHAMMADIYAH TEMANGGUNG
PENERAPAN TINDAKAN DUKUNGAN MOBILISASI UNTUK MENINGKATKAN MOBILITAS FISIK PADA PASIEN POST OPERASI APENDIKTOMI DI RUANG MARWA RUMAH SAKIT PKU MUHAMMADIYAH TEMANGGUNG
ABSTRAK
Latar Belakang: Pasien post operasi apendiktomi sering mengalami gangguan mobilitas fisik akibat nyeri luka operasi, penurunan kekuatan otot, serta efek tirah baring. Kondisi ini dapat memperlambat proses pemulihan dan meningkatkan risiko komplikasi, sehingga diperlukan intervensi keperawatan yang tepat berupa dukungan mobilisasi dini. Metode: Penelitian ini menggunakan desain studi kasus pada dua pasien post operasi apendiktomi yang mengalami gangguan mobilitas fisik di RS PKU Muhammadiyah Temanggung pada bulan Januari 2026. Intervensi yang diberikan berupa dukungan mobilisasi dini secara bertahap mulai dari 6–12 jam hingga 48–72 jam post operasi selama tiga hari, meliputi latihan gerak di tempat tidur, duduk, berdiri, hingga berjalan dengan bantuan. Hasil: Hasil menunjukkan adanya peningkatan mobilitas fisik pada kedua pasien yang ditandai dengan peningkatan kekuatan otot dan rentang gerak (ROM), penurunan nyeri, serta peningkatan kemampuan dalam melakukan aktivitas seperti duduk, berdiri, dan berjalan. Pasien juga menyatakan gerakan menjadi lebih leluasa dan merasa lebih nyaman. Pembahasan: Penerapan dukungan mobilisasi dini terbukti efektif dalam meningkatkan mobilitas fisik pasien post operasi apendiktomi. Mobilisasi yang dilakukan secara bertahap dapat meningkatkan sirkulasi darah, mengurangi nyeri, mencegah kekakuan otot dan sendi, serta meningkatkan kepercayaan diri pasien dalam melakukan aktivitas. Kesimpulan: Dukungan mobilisasi dini efektif dalam meningkatkan mobilitas fisik dan mempercepat proses pemulihan pada pasien post operasi apendiktomi.
Kata Kunci : Apendiktomi; Dukungan Mobilisasi; Gangguan Mobilitas Fisik
IMPLEMENTATION OF MOBILIZATION SUPPORT MEASURES TO IMPROVE PHYSICAL MOBILITY IN POST APPENDICTOMY PATIENTS IN THE MARWA UNIVERSITY OF PKU MUHAMMADIYAH HOSPITAL TEMANGGUNG
ABSTRACT
Introduction: Patients after appendectomy often experience impaired physical mobility due to postoperative pain, decreased muscle strength, and the effects of bed rest. This condition can delay recovery and increase the risk of complications, thus requiring appropriate nursing interventions such as early mobilization support. Method: This study used a case study design involving two post-appendectomy patients with impaired physical mobility at RS PKU Muhammadiyah Temanggung in January 2026. The intervention was early mobilization support conducted gradually from 6–12 hours up to 48–72 hours postoperatively over three days, including range-of-motion exercises, sitting, standing, and assisted walking. Result: The results showed improvement in both patients’ physical mobility, indicated by increased muscle strength and range of motion (ROM), decreased pain levels, and improved ability to perform activities such as sitting, standing, and walking. Patients also reported feeling more comfortable and able to move more freely. Discussion: Early mobilization support was found to be effective in improving physical mobility in post-appendectomy patients. Gradual mobilization helps enhance blood circulation, reduce pain, prevent muscle and joint stiffness, and improve patient confidence in performing daily activities. Conclusion: Early mobilization support is effective in improving physical mobility and accelerating recovery in post-appendectomy patients.
Keywords: Appendectomy; Mobilization Support; Physical Mobility Impairment
Abstrak
EFEKTIFITAS SENAM YOGA UNTUK MENGENDALIKAN KETIDAKSTABILAN KADAR GLUKOSA DARAH PADA DIABETES MELLITUS TIPE II
Latar belakang: Diabetes mellitus merupakan penyakit tidak menular yang ditandai oleh meningkatnya kadar glukosa dalam darah. Kondisi ini terjadi karena adanya gangguan dalam proses metabolisme serta ketidakefektifan hormon insulin dalam mengatur keseimbangan gula darah. Keadaan tersebut membuat tubuh tidak mampu memanfaatkan glukosa dengan baik sehingga terjadi peningkatan kadar gula dalam darah (hiperglikemia). Tujuan: Mengetahui efektivitas senam yoga terhadap pengendalian tingkat glukosa dalam darah pasien dengan diabetes mellitus. Metode: Penelitian ini dilaksanakan menggunakan pendekatan studi kasus. Kadar glukosa darah diukur menggunakan alat glucometer secara pre-test dan post-test. Pelaksanaan senam yoga sebagai intervensi dilakukan selama tiga hari dalam satu minggu berturut-turut dalam waktu 25 menit setiap sesi. Kegiatan senam yoga meliputi tahap pemanasan, tiga gerakan inti, dan pendinginan sesuai SOP. Jumlah partisipan sebanyak 2 orang dengan kriteria perempuan berusia 40–79 tahun, telah menderita diabetes melitus tipe lebih dari satu tahun serta memiliki kadar glukosa dalam darah tidak stabil (>200–500 mg/dL). Hasil: Tingkat glukosa dalam darah pasien (1) 378 mg/dl menjadi 195 mg/dl, pasien (2) 374 mg/dl menjadi 178 mg/dl. Rata-rata penurunan tingkat gula darah selama 3 hari pada 2 pasien 39,17 mg/dl. Senam yoga mampu membantu secara efektif mengendalikan kadar glukosa darah hingga menjadi lebih dekat dengan rentang normal pada penderita diabetes mellitus. Kesimpulan: Pelaksanaan senam yoga dapat memberikan efek dalam menurunkan kadar gula darah pada pasien diabetes mellitus, hingga mendekati batas normal dan berpotensi menjadi salah satu upaya nonfarmakologis dalam pengendalian glukosa darah.
Kata kunci: Diabetes melitus; glukosa darah; latihan yoga.
Email: Fifiyanaamilia3@gmail.com.
Abstrak
Pengaruh Art Therapy Terhadap Tingkat Ansietas Pada Lansia Dengan Demensia
Latar Belakang : Lansia dengan demensia merupakan gangguan kognitif yang bisa
meningkatkan kecemasan dan mempengaruhi kualitas hidup. Art Therapy
merupakan salah satu intervensi nonfarmakologis untuk membantu
mengekspresikan emosi serta menstimulasi fungsi kognitif. Tujuan : Penelitian ini
bertujuan untuk mengetahui pengaruh art therapy menggambar terhadap penurunan
tingkat ansietas pada lansia dengan demensia. Metode : Penelitian menggunakan
studi kasus dengan dua responden lansia. Pengukuran tingkat ansietas dilakukan
menggunakan Hamilton Anxiety Rating Scale (HARS) dan fungsi kognitif
menggunakan Mini Mental State Examination (MMSE) sebelum dan sesudah
intervensi. Intervensi dilakukan sebanyak 3 kali dalam rentang waktu 8 hari. Hasil
: Penelitian menunjukkan bahwa peningkatan fungsi kognitif dengan skor MMSE
pada Ny. S meningkat dari 20 menjadi 24 dan Ny. M dari 13 menjadi 15. Selain itu
terjadi penurunan tingkat ansietas pada Ny. S dengan skor HARS menurun dari 26
menjadi 18 dan Ny. M dari 24 menjadi 19. Kesimpulan : Art therapy menggambar
efektif dalam menurunkan tingkat ansietas dan meningkatkan fungsi kognitif pada
lansia dengan demensia.
Kata kunci: Ansietas., Demensia., Terapi Menggambar
Abstrak
PENANGANAN CEDERA DAN PERAWATAN LUKA RINGAN GURU PAUD ELPIST” DI PAUD ELPIST TEMANGGUNG 2025
Penanggulangan dan atau pertolongan pertama pada luka yang terjadi pada anak di sekolah, akan menjadi tanggungjawab guru dan pengasuh atau pembimbing di sekolah tersebut. Peran guru dalam keberhasilan penanganan cedera atau luka ringan sangat diperlukan, karena kecepatan dan ketepatan dalam pertolongan pertama akan menentukan proses penyembuhan selanjutnya.
Keberhasilan pada pemberian bantuan pertolongan pertama ini dapat dilihat dari kualitas perilaku individu yang dipengaruhi oleh pemahaman yang dimiliki mengenai pertolongan pada luka. Semakin tinggi pengetahuan, perilaku individu terhadap suatu masalah akan semakin positif
Abstrak
EDUKASI MENTAL HEALTH FIRST AID PADA SISWA SMK TERKAIT TINGKAT PENGETAHUAN REMAJA DALAM MENGATASI MASALAH KESEHATAN MENTAL DI SEKOLAH 2025
Masalah kesehatan mental pada remaja merupakan isu yang semakin mendapat perhatian karena dapat memengaruhi proses belajar, hubungan sosial, serta perkembangan psikologis siswa. Berbagai tekanan akademik, pergaulan, penggunaan media sosial, maupun masalah keluarga dapat menjadi faktor yang memengaruhi kesehatan mental remaja. Namun demikian, masih banyak siswa yang memiliki pengetahuan terbatas mengenai kesehatan mental dan cara memberikan bantuan awal kepada teman yang mengalami masalah psikologis.
Mental Health First Aid (MHFA) atau pertolongan pertama kesehatan mental merupakan upaya awal yang dapat dilakukan untuk membantu individu yang mengalami masalah kesehatan mental sebelum memperoleh bantuan profesional. Melalui edukasi Mental Health First Aid, siswa diharapkan mampu mengenali tanda-tanda gangguan kesehatan mental, memberikan dukungan awal yang tepat, serta mengetahui langkah-langkah mencari bantuan yang sesuai.
Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan siswa SMK mengenai kesehatan mental dan Mental Health First Aid sebagai upaya meningkatkan kemampuan remaja dalam menghadapi dan mengatasi masalah kesehatan mental di lingkungan sekolah. Kegiatan dilaksanakan melalui penyuluhan kesehatan, diskusi interaktif, studi kasus sederhana, serta evaluasi menggunakan pretest dan posttest.
Luaran yang diharapkan dari kegiatan ini adalah meningkatnya pengetahuan siswa mengenai kesehatan mental, meningkatnya kesadaran terhadap pentingnya menjaga kesehatan mental, tersusunnya laporan kegiatan pengabdian kepada masyarakat, serta publikasi ilmiah sebagai bentuk diseminasi hasil kegiatan.
Kata kunci: kesehatan mental, Mental Health First Aid, remaja, siswa SMK, pengabdian masyarakat.
Abstrak
GAMBARAN RISIKO JATUH PADA LANSIA MENGGUNAKAN TUG SCORE DI WILAYAH KABUPATEN TEMANGGUNG TAHUN 2023
Abstrak
PENINGKATAN PENGETAHUAN DAN KESIAPSIAGAAN MASYARAKAT DALAM PENANGANAN PERTAMA KASUS GAWAT DARURAT DI LINGKUNGAN RUMAH
Abstrak
PEMBERDAYAAN KELUARGA DALAM MERAWAT PASIEN DIABETES
Abstrak
EDUKASI PERAN FISIKA DALAM BIDANG KESEHATAN DAN KEPERAWATAN BAGI SISWA MAN TEMANGGUNG
Abstrak
SKRINING HIPERTENSI PADA USIA REMAJA, DEWASA SAMPAI LANSIA DI KELURAHAN MADURESO DAN SIDOREJO TEMANGGUNG
Abstrak
UPAYA PENYELESAIAN MASALAH KETIDAKSTABILAN KADAR GLUKOSA DARAH: HIPERGLIKEMIA MELALUI PEMBERIAN REBUSAN JAHE MERAH PADA PENDERITA DIABETES MELLITUS
Abstrak
“UPAYA PENYELESAIAN MASALAH KEPERAWATAN ANSIETAS PADA PENDERITA GAGAL GINJAL KRONIS YANG MENJALANI HEMODIALISIS DENGAN TEKNIK DISTRAKSI FOOT MASSAGE”
Abstrak
UPAYA MENINGKATKAN PENCAPAIAN NILAI KEPERAWATAN MEDIKAL BEDAH III MELALUI PENERAPAN METODE PEMBELAJARAN CERAMAH, STUDI KASUS DAN TUTORIAL SEBAYA DI AKADEMI KEPERAWATAN ALKAUTSAR TEMANGGUNG KEAKTIFAN DALAM MENJAWAB PERTANYAAN MAHASISWA TINGKAT II SEMESTER IV PADA MATA KULIAH
Abstrak
PENGARUH MINAT BELAJAR SISWA TERHADAP HASIL BELAJAR FISIKA DI SMA NEGERI 1 TEMANGGUNG
Abstrak
PENERAPAN TOILET TRAINING UNTUK MEMPERBAIKI ELIMINASI URIN PADA ANAK-ANAK DENGAN NOCTURNAL ENURESIS
Abstrak
“PENCEGAHAN HIPERTENSI MENGGUNAKAN MEDIA VIDIO DAN LEAFLET ”
Abstrak
MANAJEMEN NYERI PASCA OPERASI MENGGUNAKAN RELAKSASI BENSON
Abstrak
SKRINING HIPERTENSI PADA USIA REMAJA, DEWASA SAMPAI LANSIA DI KELURAHAN MADURESO DAN SIDOREJO TEMANGGUNG
Abstrak
GANGGUAN MOBILITAS FISIK PADA PASIEN STROKE DENGAN TEKNIK LATIHAN PENGUATAN OTOT MENGGENGGAM BOLA KARET
Abstrak
EFEKTIVITAS SENAM KAKI UNTUK MENGATASI KETIDAKSTABILAN KADAR GLUKOSA DARAH PADA PASIEN DIABETES MELITUS
Abstrak
PENERAPAN TOILET TRAINING UNTUK MEMPERBAIKI ELIMINASI URIN PADA ANAK-ANAK DENGAN NOCTURNAL ENURESIS
Nocturnal enuresis merupakan kondisi keluarnya urin secara tidak sadar
pada malam hari saat tidur pada anak usia lebih dari 5 tahun tanpa adanya
gangguan neurologis maupun kelainan kongenital saluran kemih. Penelitian dilakukan pada 20 anak. Penerapan toilet training dilakukan melalui beberapa kegiatan meliputi pembiasaan anak untuk buang air kecil sebelum tidur, pengaturan jadwal berkemih secara teratur, pembatasan konsumsi cairan sebelum tidur, serta pemberian reinforcement positif oleh orang tua.
Hasil observasi menunjukkan sebagian besar anak mulai mampu mengenali keinginan berkemih pada malam hari dan frekuensi mengompol mengalami penurunan setelah dilakukan intervensi secara konsisten selama penelitian berlangsung
Abstrak
APLIKASI PERAWATAN LUKA MODERN DRESING DALAM MENINGKATKAN INTEGRITAS KULIT PASIEN ULKUS DIABETIKUM
Abstrak
UPAYA PENYELESAIAN MASALAH KEPERAWATAN ANSIETASPADA PENDERITA GAGAL GINJAL KRONIS YANGMENJALANI HEMODIALISIS DENGAN TEKNIK DISTRAKSI : FOOT MASSAGE
Abstrak
VALIDITAS DAN RELIABILITAS INSTRUMEN NYERI PADA PASIEN PENURUNAN KESADARAN: LITERATURE REVIEW
Abstrak
Integrasi Konseling Holistik dalam Meningkatkan Kesejahteraan Mental Mahasiswa Berdasarkan Analisis SRQ
Abstrak
Pengembangan Model Self-Monitoring Fenomena Fajar (Dawa Effect) untuk Meningkatkan Self-Management pad Pasien Diabetes Melitus Tipe 2
Abstrak
Efektifitas Pemberian Terapi Murotal Al-Qur’an Untuk Mengatasi Gangguan Pola Tidur Pada Lansia Dengan Insomnia
Abstrak
Rancangan Inklusif D-PUZZLO terhadap Suasana Hati dan Fokus Pada Anak Berkebutuhan Khusus dan Down Syndrome
Penelitian ini bertujuan untuk mengembangkan dan mengevaluasi "D-PUZZLO" sebagai alat bantu edukatif bagi anak dengan Down syndrome. Dengan menggunakan desain kuasi-eksperimen pada anak usia 6-12 tahun di SLB C Temanggung, penelitian ini akan mengukur dampaknya terhadap fokus dan suasana hati anak. Hasil penelitian diharapkan dapat memberikan kontribusi bagi institusi pendidikan, orang tua, terapis, serta masyarakat dalam menciptakan lingkungan belajar yang lebih inklusif dan menyenangkan bagi anak berkebutuhan khusus. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis desain puzzle inklusif sebagai media pembelajaran berbasis STEM bagi anak dengan kebutuhan khusus. Puzzle digunakan sebagai alat pembelajaran yang mampu menstimulasi perkembangan kognitif, sensorik, dan motorik, sekaligus membantu anak memahami konsep bentuk, pola, warna, serta angka secara lebih konkret. Penelitian ini mengintegrasikan prinsip desain inklusif dan teori Gestalt, yang menekankan bahwa anak memahami objek secara menyeluruh (holistik) daripada sebagai bagian-bagian terpisah.
Dalam konteks pembelajaran, puzzle dirancang dengan mempertimbangkan ukuran potongan, jumlah bagian yang terbatas, bentuk yang mudah digenggam, serta penggunaan warna kontras untuk memudahkan anak mengenali dan menyusun potongan puzzle. Pendekatan ini juga mendukung pembelajaran berbasis permainan (game-based learning) yang dapat meningkatkan motivasi, konsentrasi, serta interaksi antara anak dengan guru atau orang tua.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa desain warna puzzle memiliki pengaruh signifikan terhadap kinerja anak. Analisis statistik menunjukkan nilai Z = −3,49 dengan p < 0,001, yang menunjukkan adanya perbedaan yang signifikan antara desain warna puzzle. Sebanyak 14 partisipan menunjukkan kinerja yang lebih baik ketika menggunakan puzzle dengan warna kontras tinggi dibandingkan dengan puzzle yang menggunakan warna seragam, sementara peserta lainnya tidak menunjukkan penurunan kinerja. Warna kontras membantu meningkatkan diskriminasi visual, persepsi figure–ground, serta keterlibatan anak dalam aktivitas puzzle.
Selain itu, penggunaan puzzle juga terbukti mendukung peningkatan konsentrasi, kemampuan pemecahan masalah, koordinasi tangan–mata, serta perkembangan motorik halus. Puzzle membantu anak mengenali warna, bentuk, ukuran, dan angka, serta memperkuat memori visual dan kemampuan berpikir logis. Desain puzzle inklusif berbasis STEM merupakan media pembelajaran yang efektif dan adaptif untuk mendukung perkembangan anak dengan kebutuhan khusus. Dengan desain yang tepat terutama dalam aspek warna, bentuk, dan jumlah potongan puzzle dapat menciptakan pengalaman belajar yang menarik, inklusif, dan mendukung perkembangan kognitif serta keterampilan dasar STEM pada anak.